Berbagai praktik baik yang telah berjalan di Kabupaten OKI turut dibahas. Di antaranya pemanfaatan Grup WhatsApp “OKI Peduli Api” untuk mempercepat pelaporan dan koordinasi antar unsur terkait, pembangunan sekat kanal dan sumur bor guna meningkatkan ketersediaan sumber air, serta penguatan kapasitas masyarakat agar mampu melakukan pencegahan dan pemadaman awal secara mandiri.
Meski demikian, sejumlah tantangan mendasar masih dihadapi. Keterbatasan anggaran dan peralatan, sulitnya akses sumber air, karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan, serta pola lama membuka lahan dengan cara dibakar menjadi catatan penting yang memerlukan penanganan konsisten dan berkelanjutan.
Kegiatan ditutup dengan pelaksanaan bakti sosial kepada masyarakat Kampung Damar Sari.
Bagi Polres OKI dan peserta didik Sespimmen, penyerahan bantuan bukan sekadar pemberian materi, melainkan langkah strategis membangun kepercayaan sekaligus mengajak warga menjadi garda terdepan pencegahan karhutla.
Di wilayah rawan kebakaran, masyarakat adalah mata pertama yang melihat kepulan asap. Mereka pula yang dapat menjadi tangan pertama mencegah api membesar. Sebab karhutla tidak selalu bermula dari kobaran raksasa — seringkali ia bermula dari api kecil yang terlambat dicegah. (*/HMS Polres OKI/HS)









