Oleh: Firdaus
(Ketua Umum SMSI)
Di bawah langit Teheran yang kini diselimuti ketegangan, retorika perang telah bertransformasi dari sekadar ancaman diplomatik menjadi kenyataan yang nyaris tak terelakkan.
Konfrontasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tidak lagi berjalan melalui perantara, melainkan telah memasuki fase bentrokan langsung yang memancarkan dampak luas bagi tatanan global.
Bagi banyak pihak, perlawanan Iran bukan sekadar upaya mempertahankan kedaulatan negara, melainkan simbol perlawanan kolektif yang mewakili aspirasi mereka yang merasa terpinggirkan oleh dominasi kekuatan besar dunia.
Perang ini memiliki dimensi yang jauh melampaui sekadar hitungan militer atau kemenangan di medan tempur.
Di mata negara-negara berkembang, sikap tegas Iran dipandang sebagai bentuk keberanian untuk menantang standar ganda yang sering kali diterapkan dalam hubungan internasional.
Di satu sisi, nilai-nilai demokrasi dan kebebasan terus digaungkan, namun di sisi lain, penerapan sanksi ekonomi dan intervensi militer sering kali dianggap sebagai upaya mempertahankan hegemoni yang menghambat kemajuan bangsa-bangsa lain.
Realitas ini semakin terasa pahit ketika melihat kondisi sosial ekonomi dunia. Data terbaru dari Bank Dunia per September 2025 mencatat bahwa masalah kemiskinan ekstrem masih menjadi tantangan berat yang belum terselesaikan.
Sebanyak 808 juta jiwa diperkirakan masih hidup dalam kondisi serba kekurangan, dengan konsentrasi terbesar berada di wilayah-wilayah yang rawan konflik.
Wilayah Sub-Sahara Afrika menanggung beban terberat, di mana hampir separuh penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan.











