Penggunaan drone memberikan perspektif tiga dimensi yang krusial dalam mengidentifikasi pola kemacetan, sementara CCTV menyediakan visual real-time untuk mengukur arus kendaraan dan menentukan titik bottleneck.
Kombinasi kedua teknologi tersebut menghasilkan analisis presisi, yang kemudian dijadikan dasar untuk pengendalian lalu lintas yang tepat sasaran.
Hasil pemantauan menunjukkan arus kendaraan bergerak padat merayap, dengan titik fokus kemacetan berada di Simpang Tugu Polwan dan kawasan Pasar Betung.
Namun, melalui kendali langsung di lapangan, kondisi lalu lintas tetap terkendali dan tidak mengalami stagnasi total.
Kepala Bidang Humas Polda Sumsel, Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari transformasi pelayanan institusi kepolisian.
“Polda Sumsel terus menghadirkan inovasi teknologi dalam pengamanan mudik. Mobile Command Center kami turunkan langsung ke titik kritis agar masyarakat merasakan kehadiran Polri secara nyata dan cepat,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk memanfaatkan Call Center 110 yang beroperasi 24 jam, mengikuti arahan petugas lapangan, menggunakan tol fungsional sebagai alternatif perjalanan, dan menghindari pelanggaran berupa pelayaran melawan arus untuk mencegah kemacetan berkepanjangan.
Implementasi sistem berbasis teknologi oleh Polda Sumsel di Jalintim Betung membuktikan bahwa pengamanan mudik telah memasuki era baru yang modern, responsif, dan presisi.
Langkah ini tidak hanya menjamin kelancaran perjalanan di wilayah Sumatera Selatan, tetapi juga menjadi contoh konkrit bagi pengelolaan arus mudik skala nasional – menguatkan komitmen Polri dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. (*/Sangkut)






