Namun demikian, data tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya rujukan tanpa pengecekan langsung.
“Kami mengacu pada data hotspot dari Sipongi, tetapi tetap dilakukan pengecekan lapangan. Belum tentu hotspot itu menandakan adanya api,” ungkap Pratama.
Pantauan data selama periode 16–23 Oktober menunjukkan fluktuasi jumlah titik panas yang cukup tinggi.
Puncaknya terjadi pada 17 Oktober dengan 1.199 titik, lalu bergerak turun naik hingga mencapai angka terendah sementara di 23 Oktober dengan 335 titik.
Pratama menjelaskan bahwa satelit mendeteksi titik panas berdasarkan karakteristik suhu permukaan dan tingkat kepercayaan hasil pembacaan.
Benda-benda bersuhu tinggi lainnya seperti atap seng atau permukaan aspal yang terpapar sinar matahari pun dapat terdeteksi sebagai titik panas, sehingga verifikasi di lokasi menjadi langkah yang tidak dapat ditiadakan.
“Ketika satelit mendeteksi titik panas, personel segera menuju lokasi sesuai koordinat untuk memastikan kondisi di lapangan. Informasi yang akurat adalah kunci penanganan yang efektif,” jelasnya.
Selain pemantauan satelit, BPBD OKI juga membuka jalur pelaporan langsung bagi masyarakat.
Warga yang melihat indikasi kebakaran dapat menyampaikan informasi disertai foto atau video serta koordinat lokasi. Laporan tersebut akan langsung ditindaklanjuti tim ke lokasi tanpa menunggu prosedur berjenjang.
“Kami mengajak masyarakat untuk bersinergi melaporkan apa yang dilihat di lingkungannya. Informasi yang cepat dan tepat sangat membantu kami menjangkau lokasi lebih dini guna mencegah kerugian yang lebih besar,” tambah Pratama. (*/Heri)




