Di samping ikon utama, stand tersebut juga menampilkan beragam potensi unggulan daerah: mulai dari kain songket, kerajinan tangan, kerajinan resam, batu cincin, batu fosil, madu alami, hingga aneka kuliner khas yang memikat selera.
Sekretaris Daerah Kabupaten OKU Alva Elan menyampaikan rasa syukur mendalam atas pencapaian yang dinilai buah kerja keras dan kreativitas bersama.
“Alhamdulillah, penghargaan ini menjadi kebanggaan segenap masyarakat Kabupaten OKU. Kami mengangkat Goa Harimau bukan sekadar hiasan pameran, melainkan sebagai wajah budaya dan sejarah yang harus terus dijaga dan diketahui dunia luar,” ujar Alva.
Ia menjelaskan bahwa kehadiran OKU dalam ajang nasional ini bertujuan melampaui sekadar pameran.
Penghargaan yang diraih menjadi pintu gerbang promosi berkelanjutan bagi produk UMKM, pariwisata, investasi, serta potensi sumber daya alam daerah yang luas namun belum banyak diketahui.
“Harapan kami, setelah dikenal melalui ajang ini, semakin banyak pihak yang mengenal OKU secara utuh — sejarahnya, budayanya, produk unggulannya, hingga peluang yang dimilikinya. Penghargaan ini bukan garis akhir, melainkan titik awal semangat baru untuk terus berinovasi dan memajukan daerah,” tegasnya.
Melalui Goa Harimau, Kabupaten OKU membuktikan bahwa warisan masa lalu adalah kekuatan masa depan. Di bawah sorotan lampu pameran nasional, sejarah menyapa masa kini: bahwa daerah yang mengenal asal-usulnya akan semakin kokoh melangkah ke depan.
Prestasi ini bukan milik satu pihak saja, melainkan milik seluruh masyarakat OKU — bukti bahwa budaya yang dijaga dengan bangga akan dihormati sejauh mata memandang. (*/Untung)





