Kondisi ini diduga kuat dipengaruhi asap yang bergerak dari wilayah tetangga yang masih mencatat aktivitas kebakaran tinggi.
Kendala terbesar yang dihadapi petugas adalah semakin menipisnya sumber air akibat dampak ekstrem fenomena El Niño.
Sebagian besar embung dan sungai telah mengering, sehingga proses pemadaman memakan waktu lebih lama dan membutuhkan upaya ekstra.
“Akibat El Niño yang ekstrem, embung dan sungai hampir mengering sepenuhnya. Hal ini menjadi kendala utama kami dalam menjangkau dan memadamkan api dengan cepat,” jelasnya.
Salah satu fokus penanganan saat ini berada di kawasan lahan plasma yang berbatasan dengan wilayah PT Abu Rahmi. Lahan berkarakteristik gambut ini sangat mudah terbakar saat kering dan api dapat merambat ke bawah permukaan tanah, sehingga proses pemadaman memerlukan waktu dan tenaga lebih besar.
Di lokasi tersebut, sekitar 14 hektare terdampak, dan sisa sekitar 4 hektare masih dalam proses pemadaman menyeluruh. Satgas gabungan terus memperkuat pengawasan dan penanganan di lokasi rawan.
BPBD PALI mengimbau masyarakat untuk turut berperan aktif menjaga kelestarian lingkungan dan menghindari pembakaran lahan yang tidak perlu, guna mencegah munculnya titik api baru yang berisiko meluas kapan saja.
“Kami mengajak seluruh masyarakat PALI untuk menjaga alam kita. Udara yang bersih dan lingkungan yang sehat adalah hak kita bersama. Mari kita hindari membakar lahan demi kesehatan generasi mendatang,” imbau Ahmad Hidayat.
Pemerintah Kabupaten PALI akan terus memperkuat koordinasi lintas sektor, menambah personel dan peralatan yang dibutuhkan, serta meningkatkan pengawasan di titik-titik rawan.
Dengan kerja sama antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat, diharapkan ancaman karhutla dapat ditekan seminim mungkin dan dampak kabut asap segera berkurang. (*/Nanda)






