Pesantren, lanjutnya, memiliki tiga fungsi utama yang saling melengkapi, yaitu pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Ketiga fungsi ini harus berjalan beriringan dan selaras, agar pesantren mampu melahirkan generasi berkualitas sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.
“Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan pusat pengembangan potensi masyarakat. Dukungan pemerintah dan kolaborasi antarberbagai pihak sangat diperlukan agar pesantren semakin kuat dalam menjalankan ketiga fungsinya secara berimbang,” tegas Alamsyah.
Hari Santri Nasional, tambahnya, bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momen refleksi untuk mengenang jasa dan kontribusi santri dalam perjalanan sejarah bangsa, sekaligus mempertegas komitmen untuk memperkuat peran mereka dalam pembangunan nasional.
Semangat pengabdian yang diwarisi para pendahulu harus diteruskan melalui peningkatan kualitas pendidikan, pemeliharaan persatuan, dan kesiapan menghadapi perubahan zaman yang semakin cepat.
“Melalui momentum Hari Santri Nasional, kita berharap lahir generasi santri yang cerdas, berkarakter kuat, mandiri, dan adaptif terhadap kemajuan zaman. Santri harus mampu menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan bangsa dan turut menggerakkan kemajuan daerah menuju masa depan yang lebih sejahtera,” harap Alamsyah.
Dengan penguatan pendidikan, karakter, dan kemandirian, santri diharapkan semakin kokoh berdiri sebagai salah satu pilar utama pembangunan sumber daya manusia, menuju tercapainya cita-cita luhur Indonesia Emas 2045. Semangat santri menguatkan negeri. (*/Heri)






