Sebagai contoh, dalam pelajaran sejarah, fokus akan diberikan pada peristiwa-peristiwa kunci dan dampaknya, bukan pada detail kronologis yang kurang relevan.
Dalam matematika, penekanan akan diberikan pada pemahaman konsep dasar dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, bukan pada soal-soal rumit yang kurang aplikatif.
Dengan pendekatan deep learning, pembelajaran menjadi lebih integratif dan kontekstual. Murid diajak belajar lintas keilmuan dan menghubungkan materi pelajaran dengan realita di lingkungan sekitar mereka.
“Kita mendorong pembelajaran yang esensial, integratif, dan kontekstual, menghubungkan materi dengan kehidupan nyata siswa,” tambah Refly.
Misalnya, pelajaran IPA dapat dikaitkan dengan praktik pertanian di lingkungan sekitar siswa, atau pelajaran Bahasa Indonesia dapat dikaitkan dengan budaya lokal Brebes.
Refly berharap penerapan deep learning menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan inspiratif.
“Pembelajaran yang menyenangkan akan mendorong berpikir kritis dan kreatif, sekaligus memperkuat pendidikan karakter dan kewarganegaraan,” pungkasnya.
Dengan demikian, tujuan pendidikan untuk mencetak generasi yang cerdas, berkarakter, dan berwawasan luas dapat tercapai dengan lebih efektif. (*/Red)








