“Kita perlu memastikan status setiap lokasi, status lahannya, status perizinannya, dokumen yang masih diperlukan, pihak yang bertanggung jawab, serta target waktu penyelesaiannya,” tegasnya.
General Manager PLN UID S2JB, Diksi Erfani Umar, menjelaskan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada kesiapan teknis, tetapi juga penyelesaian hambatan di lapangan.
Sejumlah tantangan masih dihadapi, antara lain akses jalan yang belum dapat dilalui kendaraan pengangkut material, wilayah perairan, persoalan tanam tumbuh, serta rute jaringan yang melintasi kawasan hutan produksi maupun hutan lindung.
“PLN telah menyiapkan perencanaan teknis dan langkah pelaksanaannya. Namun, karakter setiap lokasi berbeda. Ada yang membutuhkan kepastian lahan, pembukaan akses mobilisasi material, penyelesaian tanam tumbuh, hingga perizinan kawasan hutan. Pemetaan kendala diperlukan agar setiap persoalan memiliki penanggung jawab dan target penyelesaian yang jelas,” jelas Diksi.
Ia menambahkan, kehadiran listrik membawa dampak luas bagi kesejahteraan masyarakat.
“Ketika listrik hadir, masyarakat memperoleh akses yang lebih luas terhadap pendidikan, kesehatan, informasi, kegiatan produktif, hingga peluang mengembangkan usaha. Koordinasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam memastikan pembangunan berjalan sesuai ketentuan dan tepat sasaran,” katanya.
Melalui forum tersebut, seluruh pihak menyepakati langkah tindak lanjut yang terstruktur — mulai dari validasi data, pemenuhan kesiapan lahan, penyelesaian perizinan, hingga pemantauan progres secara berkala.
Program Lisdes 2026–2029 diharapkan selesai sesuai jadwal, sehingga listrik yang andal dan berkelanjutan dapat segera dirasakan oleh masyarakat di desa dan dusun yang selama ini belum terjangkau layanan kelistrikan.
Listrik yang menyala bukan sekadar cahaya di malam hari, melainkan pintu gerbang menuju kemajuan dan kesejahteraan yang setara bagi seluruh masyarakat Sumatera Selatan. (*/Andrian)








