Palembang, Radar Keadilan – Pemerintah secara tegas mempercepat pemerataan akses kelistrikan di Sumatera Selatan.
Melalui sinkronisasi lintas sektor yang dipimpin Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Program Listrik Perdesaan (Lisdes) 2026–2029 kini memasuki tahap pelaksanaan nyata, dengan 98 dari 129 lokasi yang diusulkan telah dinyatakan siap ditindaklanjuti.
Pertemuan sinkronisasi berlangsung di Kantor PLN Unit Induk Distribusi Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu (UID S2JB), Palembang, pada Rabu (16/9/2026).
Forum ini mempertemukan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, PT PLN (Persero), kementerian/lembaga terkait, serta pemerintah daerah guna memutakhirkan data lokasi, memastikan kesiapan lahan, dan menyelesaikan perizinan pembangunan jaringan yang melintasi kawasan hutan dan area penggunaan lainnya.
Direktur Pembinaan Ketenagalistrikan Strategis Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM RI, Andriah Feby Misna, S.T., M.T., M.Sc., menegaskan bahwa data yang akurat dan lengkap menjadi fondasi utama dalam menjamin efektivitas pembangunan infrastruktur kelistrikan.
“Program Listrik Perdesaan merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mempercepat penyediaan akses tenaga listrik secara merata, khususnya bagi masyarakat di wilayah perdesaan, terpencil, dan belum berlistrik. Kelengkapan dan validitas data menjadi dasar penting dalam menentukan perencanaan pembangunan infrastruktur kelistrikan. Kesiapan lahan dan penyelesaian perizinan harus dipastikan sejak awal agar pembangunan tidak terkendala ketika memasuki tahap pelaksanaan,” ujar Andriah.
Berdasarkan pemutakhiran data yang dilakukan PLN, pembangunan di 98 lokasi tersebut mencakup jaringan tegangan menengah sepanjang 141,18 kilometer sirkuit dan jaringan tegangan rendah sepanjang 193,94 kilometer sirkuit.
Selain itu, PLN akan membangun gardu distribusi dengan kapasitas total mencapai 5.450 kVA.
Di samping itu, guna menjangkau wilayah yang sulit dilewati jaringan konvensional, PLN juga merencanakan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di 14 lokasi strategis.
Andriah menekankan bahwa hasil sinkronisasi tidak boleh berhenti pada penyamaan data, melainkan harus diikuti langkah konkret di setiap lokasi.









