ketiga, pembinaan kesehatan mental dan spiritual sebagai bekal menavigasi dinamika kehidupan.
Peran ayah juga mendapat sorotan khusus.
Menurutnya, tanggung jawab kepala keluarga tidak terbatas pada pemenuhan kebutuhan materi semata, melainkan harus hadir secara fisik dan emosional guna membangun rasa aman, membentuk kepribadian, serta menjaga kesehatan mental anak.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Asmar Wijaya mengingatkan agar orang tua tidak menyerahkan sepenuhnya proses pendidikan kepada perangkat gawai.
Penggunaan teknologi harus diawasi secara ketat melalui pembatasan waktu pemakaian, dijaga dengan komunikasi yang hangat antaranggota keluarga, serta diarahkan untuk kegiatan yang produktif dan mendidik.
“Keluarga adalah benteng pertahanan pertama dalam mencegah berbagai persoalan sosial, seperti perundungan, tawuran, penyalahgunaan zat adiktif, perilaku seksual berisiko, hingga kenakalan remaja. Pengasuhan yang berkualitas, kasih sayang yang tulus, serta penanaman nilai agama dan moral menjadi kunci utama melahirkan generasi yang tangguh dan berdaya saing,” tambahnya.
Sebagai wujud nyata penguatan ketahanan keluarga, Pemerintah Kabupaten OKI secara resmi meluncurkan program unggulan bernama SAPA PERAHU KAJANG (Strategi Pencegahan Remaja Nikah Usia Dini dan Pengaturan Kehamilan untuk Menurunkan Angka Kelahiran pada Usia Muda).
Inovasi daerah ini ditujukan untuk menekan angka kelahiran pada kelompok usia 15–19 tahun melalui perluasan akses edukasi, pendampingan intensif bagi remaja dan keluarga, serta kerja sama lintas instansi terkait.
Dengan program ini, Pemerintah Kabupaten OKI berkomitmen memastikan fondasi keluarga tetap kokoh, sehingga mampu melahirkan generasi unggul yang menjadi penggerak utama kemajuan daerah dan mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045. (*/Heri)












