Berbagai karya unggulan ditampilkan dalam kegiatan tersebut, antara lain produk olahan ikan sagarurung, keripik jengkol, serta hasil keterampilan menjahit yang dikembangkan dari potensi sumber daya alam dan kebutuhan masyarakat setempat.
Produk-produk ini menjadi bukti bahwa pembelajaran dapat menghubungkan pengetahuan teoretis dengan keterampilan praktis yang langsung berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Ketua PKBM Tunas PALI, Adella Rosita, S.E., menjelaskan bahwa model pembelajaran yang diseminasi berfokus pada pemanfaatan potensi lokal sebagai sumber pengalaman belajar yang bermakna.
“Pembelajaran Mendalam mendorong peserta didik memahami materi secara lebih bermakna, sedangkan Koding dan Kecerdasan Artifisial memperkenalkan keterampilan berpikir komputasional, pemecahan masalah, serta pemanfaatan teknologi sesuai kebutuhan pembelajaran. Melalui pembelajaran ini, kita bisa memanfaatkan potensi lokal yang ada di lingkungan masyarakat PALI,” jelas Adella.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa pengintegrasian potensi lokal ke dalam proses pembelajaran membuka peluang bagi peserta didik untuk mengenali peluang di sekitarnya, mengembangkan kreativitas, serta menghasilkan karya yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
Praktik baik ini diharapkan dapat diadopsi oleh PKBM lain, SKB, serta satuan pendidikan lainnya di Kabupaten PALI dan wilayah sekitarnya.
“Harapannya, praktik baik ini dapat terus berkembang, berkelanjutan, dan memberikan manfaat yang nyata bagi peserta didik maupun masyarakat luas,” harap Adella.
Melalui langkah ini, Pemerintah Kabupaten PALI bersama satuan pendidikan nonformal terus memperkuat inovasi pembelajaran yang adaptif terhadap kemajuan teknologi, sekaligus memberdayakan kekayaan sumber daya lokal sebagai fondasi utama peningkatan kualitas sumber daya manusia daerah. (*/Nanda)






