Pemanfaatan kecerdasan buatan juga telah dikembangkan untuk memperkirakan risiko penyakit kronis, termasuk diabetes dan penyakit kardiovaskular.
Pendekatan ini menggeser pola pelayanan kesehatan dari penanganan setelah sakit menjadi deteksi risiko dan intervensi lebih dini.
Kekuatan ekosistem ini didukung oleh industri elektronik, semikonduktor, teknologi informasi dan komunikasi, serta industri perangkat medis yang mapan.
Nilai bisnis industri biomedis Taiwan tercatat mencapai sekitar NT$830,1 miliar pada tahun 2025, mencakup sektor farmasi, alat kesehatan, bioteknologi, pengobatan regeneratif, hingga layanan kesehatan digital.
Berbagai inovasi yang lolos ke babak semifinal memperlihatkan bagaimana teknologi dapat diadaptasi untuk menjawab kebutuhan spesifik di beragam kondisi geografis.
Horus ML dari Spanyol mengembangkan kecerdasan buatan untuk skrining risiko penyakit jantung.
Masima dari Brasil memanfaatkan analisis citra medis berbasis kecerdasan buatan, sementara Neodocs dari India menghadirkan perangkat skrining yang dapat dioperasikan melalui telepon pintar dalam hitungan detik.
Solusi yang dikembangkan juga memperhatikan keterbatasan infrastruktur. Cardiac Centre Ethiopia menghadirkan sistem pendukung keputusan klinis yang dapat beroperasi tanpa akses internet.
PragmaClin dari Kanada mengembangkan sistem penilaian gejala penyakit Parkinson yang dapat digunakan di wilayah pedesaan.
Inovasi lainnya menyasar kebutuhan masyarakat lanjut usia, mulai dari deteksi dini risiko tersesat pada penderita demensia hingga perangkat pendukung aktivitas harian yang mandiri.
Pengalaman Taiwan menyampaikan pesan penting bagi Indonesia. Digitalisasi kesehatan tidak cukup hanya dengan menghadirkan aplikasi.
Diperlukan interoperabilitas antar sistem, tata kelola data yang aman, perlindungan privasi, serta pemerataan akses agar kemajuan teknologi kesehatan benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Tanpa fondasi yang kuat, kemajuan berbasis kecerdasan buatan berisiko hanya dinikmati oleh kelompok yang telah memiliki akses memadai terhadap fasilitas kesehatan.
Kompetisi Go Healthy with Taiwan 2026 menjadi bukti bahwa teknologi kesehatan yang unggul tidak dinilai dari kerumitan sistemnya, melainkan dari kemampuannya menjangkau lebih banyak orang, mendeteksi penyakit lebih dini, meningkatkan mutu pelayanan, dan pada akhirnya membantu masyarakat hidup lebih sehat dan sejahtera. (*/SMSI Sumsel)






