Warisan Budaya Tak Benda Midang Morge Siwe Bikin Rindu Pulang, Meriahkan Lebaran di Kayuagung

Warisan Budaya Tak Benda Midang Morge Siwe Bikin Rindu Pulang, Meriahkan Lebaran di Kayuagung

Spread the love
         
 
  
                 
   
Ogan Komering Ilir, Radar Keadilan Tradisi arak-arakan khas masyarakat Kayuagung, Midang, kembali menghidupkan semangat Lebaran dengan kemeriahan luar biasa.

Semangat kebersamaan meriahkan arak-arakan Midang Morge Siwe!
Peserta mengenakan busana adat khas Kayuagung seperti Bengian Mulah dan Maju Mulah, dengan latar belakang menara khas kota yang menjadi ikon tersendiri 🎉
Warisan budaya tak benda ini benar-benar hidup dan menghubungkan hati masyarakat.| HS, radarkeadilan.com

Acara spesial Midang Morge Siwe (sembilan marga) digelar pada Senin, 23 Maret 2026, di pelataran Pantai Love tepian Sungai Komering, menghadirkan ribuan warga lokal dan perantau yang pulang kampung.

Kegiatan ini bukan hanya perayaan tahunan, melainkan wujud pelestarian warisan budaya tak benda yang telah mengikat jiwa masyarakat Kayuagung turun-temurun.

Midang merupakan perayaan berjalan kaki dengan busana adat khas dan iringan musik tradisional.

Kegiatan yang terbagi menjadi dua bentuk – Midang Begorok untuk hajatan seperti pernikahan atau khitanan, serta Midang Bebuke untuk perayaan Lebarantelah menjadi cara masyarakat saling menyapa, mempererat hubungan, dan mempertahankan identitas budaya.

Pada hari ketiga dan keempat Idul Fitri setiap tahun, sebelas kelurahan di Kayuagung ikut berpartisipasi, menjadikan jalanan kota sebagai panggung terbuka yang penuh warna dan irama.

Keindahan budaya Kayuagung bersinar terang dalam arak-arakan Midang Morge Siwe 🇮🇩
Busana adat yang megah dan semangat kebersamaan menjadi bukti bahwa warisan leluhur tetap hidup dan memikat! | HS, radarkeadilan.com

Para peserta tampil dalam busana adat kebesaran Kayuagung seperti Maju Setakatan, Maju Inti, Bengian Inti, dan Manjau Kahwin.

Kain songket yang berkilau, selendang yang menjuntai, serta hiasan kepala yang sarat makna menjadi simbol kuat identitas budaya setempat.

Arak-arakan dimulai dari pembawa tanda kelurahan dan bendera merah putih, diikuti anak-anak, pemuda-pemudi, hingga iringan musik tanjidor yang membangkitkan semangat kemeriahan.

Dalam rangkaian perkawinan mabang handak, Midang juga berperan penting sebagai tahap pengenalan calon pengantin kepada masyarakat setelah kesepakatan perkawinan tercapai.

Tindakan ini menegaskan ikatan yang dijaga oleh adat dan diakui secara sosial.

Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan, H. Edward Candra, menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai bagian dari warisan budaya nasional.

“Kita bersyukur kegiatan budaya kebanggaan Midang Morge Siwe dapat terus dilaksanakan dan menjadi warisan budaya tak benda Indonesia,” ucapnya.

Menurutnya, nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur menjadi kekuatan utama tradisi ini.

“Kami mendorong agar kegiatan ini dikemas lebih menarik dan inovatif sehingga mampu menarik wisatawan luar kota maupun mancanegara. Ke depan, ini bisa menjadi agenda nasional bahkan internasional,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati OKI, H. Muchendi Mahzareki, menyebut Midang sebagai kebanggaan masyarakat Kayuagung yang telah diakui pemerintah.

Suasana penuh semangat saat Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki, SE., M.Si didampingi Ketua TP PKK dan Dekranasda Kabupaten OKI Ny. Hj. Ike Meilina Muchendi menyapa dan menghargai antusiasme masyarakat yang hadir meramaikan perayaan budaya khas Kayuagung 🤝
Semangat kebersamaan dan dukungan terhadap warisan budaya terasa begitu kuat dalam momen ini! | HS, radarkeadilan.com

“Kita sambut adat ini dengan kebanggaan karena sudah diakui pemerintah sebagai warisan budaya tak benda masyarakat Kayuagung,” ujarnya.

Ia menyoroti antusiasme masyarakat yang pulang kampung dan mengharapkan kegiatan ini mendorong kemajuan pariwisata serta ekonomi kreatif.

“Selamat menggelar Midang Morge Siwe. Pesan kami, tetap jaga ketertiban dan keselamatan dalam merayakan. Mudah-mudahan semarak Lebaran ini menjadi lebih berkesan dan tetap tertib. Kita jaga bersama,” pungkasnya.

Kini, Midang bukan hanya milik masyarakat Kayuagung semata. Tradisi yang hidup di tengah perubahan zaman telah menjadi ruang bersama untuk mengenal dan memahami kekayaan budaya Indonesia.

Lebih dari sekadar perayaan, Midang menjadi cara merawat ingatan serta alasan bagi banyak orang untuk selalu pulang kampung – membuktikan bahwa warisan budaya tak benda mampu menjaga tali hubungan antar generasi dan antar masyarakat(*/HS)