Sebagai langkah antisipasi, Pemkab OKI telah mengirimkan sampel makanan dan sampel medis ke Balai Besar POM untuk diteliti lebih lanjut.
“Tujuannya adalah untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang dan memperkuat implementasi petunjuk teknis di lapangan,” tegas Lubis.
Pemerintah daerah juga tengah mengevaluasi seluruh sistem distribusi agar lebih efisien dan aman.
Pemkab OKI mengajak seluruh pihak, termasuk kepala sekolah, guru, dan orang tua siswa, untuk turut aktif dalam melakukan pengawasan, memberikan edukasi, dan melaporkan jika terdapat gejala gangguan kesehatan.
“Kami ingin memastikan bahwa program ini benar-benar memberikan manfaat, bukan mudarat. Dengan kerja sama semua pihak, kami yakin hal ini dapat diatasi dan menjadi pembelajaran bersama ke depan,” jelas Lubis.
Lubis menegaskan bahwa program MBG tetap penting untuk mendukung tumbuh kembang anak-anak, khususnya di daerah tertinggal dan terpencil.
“Namun, pelaksanaannya harus selalu sesuai standar kesehatan dan keamanan pangan. Program MBG tetap penting, namun pelaksanaan harus sesuai standar kesehatan dan keamanan bagi anak-anak yang mengkonsumsi,” tutupnya.
Respons cepat dan komitmen penuh dari Pemkab OKI ini menunjukkan keseriusan dalam menjaga kesehatan dan keselamatan pelajar.
Evaluasi menyeluruh dan pengawasan ketat akan menjadi kunci untuk memastikan program MBG tetap memberikan manfaat positif bagi generasi penerus Kabupaten OKI. (Red)











