Peran perbankan, lembaga keuangan bukan bank, dan seluruh pelaku usaha nasional dinilai sangat krusial dalam proses ini.
Seluruh pihak diharapkan menjadi garda terdepan sekaligus jembatan yang menghubungkan aliran dana dari luar negeri ke sektor-sektor produktif dalam negeri.
Tanpa keterlibatan aktif ekosistem usaha nasional, modal global tidak akan terserap secara berkelanjutan dan merata.
FGD di Bali ini merupakan pembuka dari rangkaian tiga forum strategis selanjutnya.
Pada Agustus 2026, SMSI bersama BPI Danantara akan membahas peran modal swasta global dan alternatif bagi hilirisasi industri di Jakarta.
Bulan September 2026, diskusi berlanjut di Medan dengan fokus pada sektor produktif nasional sebagai penyerap likuiditas berbasis prinsip investasi berkelanjutan.
Terakhir, pada Oktober 2026 di Makassar, akan dikaji aspek regulasi dan integritas sistem keuangan untuk menyeimbangkan praktik internasional dengan kedaulatan hukum nasional.
Seluruh rangkaian kegiatan ini ditargetkan menghasilkan rekomendasi operasional berupa dokumen panduan yang akan diserahkan kepada pemerintah sebagai landasan pelaksanaan PFII yang berpihak pada kepentingan nasional.
“Mari kita tinggalkan ego sektoral, menyatukan visi, dan menjadikan momen ini sebagai fondasi ekonomi nasional yang mandiri, tangguh, dan berdaulat,” tutup Prof. Harris. (*/SMSI Pusat)









