Berbekal pengalaman dan penelitian mandiri, kelompoknya berhasil menyempurnakan teknik pembibitan yang lebih efisien dan andal.
“Kini kami mampu memproduksi hingga 500.000 bibit mangrove setiap tahunnya, dengan kapasitas maksimal mencapai 650.000 bibit. Tersedia 11 jenis mangrove yang dibudidayakan, antara lain Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Rhizophora mucronata, jenis api-api, serta Bruguiera atau lacang,” jelas Samsudin.
Inovasi utama yang diterapkan dalam metode SAM-SAKTI adalah pemanfaatan sistem pasang surut air laut secara alami.
Cara ini memungkinkan bibit mendapatkan suplai air yang cukup tanpa memerlukan penyiraman manual, sehingga biaya pemeliharaan lebih rendah, proses pertumbuhan lebih optimal, dan bibit yang dihasilkan memiliki ketahanan lebih baik saat ditanam di lapangan.
Untuk menjamin keberlanjutan usaha tersebut, kelompok secara aktif membangun jaringan kemitraan dengan instansi pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga pelaksana program lingkungan guna memastikan hasil produksi dapat terserap secara maksimal.
PTBA menegaskan bahwa NUSA diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai pusat penyedia bibit, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran, pengembangan inovasi, serta sumber inspirasi bagi komunitas lain di seluruh Indonesia.
Dengan demikian, upaya pelestarian ekosistem pesisir dapat terus berkembang secara terpadu dan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat. (Humas PTBA)
Narahubung:
Eko Prayitno
Corporate Secretary Division Head
PT Bukit Asam (Persero) Tbk
Surel: corsec@bukitasam.co.id
Situs: www.ptba.co.id










