“Remaja putri memerlukan perhatian khusus karena kondisi anemia dapat berdampak signifikan terhadap kesehatan reproduksi dan berpotensi meningkatkan risiko stunting pada keturunan di masa mendatang,” tambahnya.

#AksiBergizi #OKI #KesehatanMasyarakat #CegahStunting #AnemiaRemaja
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten OKI, Muhammad Lubis, menyatakan bahwa masalah anemia pada remaja masih menjadi tantangan kesehatan yang membutuhkan penanganan berkelanjutan.
Melalui Aksi Bergizi, pihaknya berupaya mengubah pola pikir siswa bahwa kesehatan adalah investasi harian, bukan sekadar pengobatan saat sakit.
“Kami ingin membangun kesadaran bahwa menjaga kesehatan harus menjadi budaya sehari-hari. Konsumsi TTD secara rutin terbukti menjadi intervensi efektif untuk menurunkan prevalensi anemia,” tegas Lubis.
Ia menambahkan, “Apabila masalah anemia dapat diatasi sejak dini, maka risiko stunting pada generasi berikutnya dapat ditekan secara signifikan. Oleh karena itu, program ini akan terus diekspansi ke berbagai sekolah di wilayah OKI.”
Pemerintah Kabupaten OKI berkomitmen penuh untuk terus mendorong terciptanya budaya hidup sehat di lingkungan sekolah.
Dengan sinergi antara pemenuhan gizi, aktivitas fisik, dan kebersihan diri, diharapkan akan lahir generasi muda yang unggul, bugar, dan berdaya saing tinggi. (*/Heri)






