Palembang, Radar Keadilan –Ancaman kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan menuntut pendekatan baru yang lebih cepat, terintegrasi, dan menyeluruh.
Pengamat sosial dan politik Sumatera Selatan, Bagindo Togar, secara khusus mendesak pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk segera membentuk wadah khusus yang diberi nama Tim Radical Break, guna mempercepat penanganan karhutla yang selama ini dinilai masih berjalan sektoral.
Menurut Bagindo Togar, penanggulangan karhutla tidak dapat lagi hanya digantungkan pada aparat pemerintah semata.
Diperlukan terobosan yang mengoptimalkan potensi sumber daya alam, keunggulan geografis, serta melibatkan seluruh elemen masyarakat secara langsung.
“Kita harus berhenti bergerak sendiri-sendiri. Karhutla adalah masalah bersama yang memerlukan respons bersama pula. Tim Radical Break hadir untuk menyatukan langkah, menyamakan arah, dan mempercepat penanganan dari hulu ke hilir,” ungkap Bagindo Togar di Palembang, baru-baru ini.
Tim Radical Break dirancang sebagai wadah koordinasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, DPRD Provinsi, TNI, instansi teknis terkait, dunia usaha, akademisi, organisasi kemasyarakatan, komunitas pelestarian lingkungan, hingga masyarakat yang tinggal di wilayah-wilayah rawan kebakaran.
Melibatkan unsur-unsur tersebut dimaksudkan agar pencegahan, pemantauan, deteksi dini, hingga pemadaman dapat berjalan beriringan dengan pembagian tugas yang jelas dan terukur.
Pengalaman dan pengetahuan masyarakat setempat juga akan ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi penanggulangan, bukan sekadar sebagai objek kebijakan. Dengan demikian, kearifan lokal dapat menjadi kekuatan utama dalam mendeteksi dan mencegah kebakaran sejak dini.
Pola kerja yang selama ini cenderung berjalan per sektor perlu diubah menjadi satu gerakan bersama yang terkoordinasi. Optimalisasi sumber daya yang sudah ada juga menjadi fokus utama, sehingga anggaran yang tersedia dapat digunakan lebih hemat, tepat sasaran, dan menghasilkan dampak yang jauh lebih besar dibanding pendekatan konvensional.
Secara mendasar, gagasan ini menandai perubahan pola penanganan: dari yang selama ini lebih banyak bersifat reaktif saat kebakaran sudah terjadi, menuju sistem pencegahan yang dominan, terpadu, cepat, dan berkelanjutan.
Ke depannya, pembentukan Tim Radical Break diharapkan memperkuat sinergi antar pihak dalam menghadapi ancaman karhutla di seluruh wilayah Sumatera Selatan.
Keberhasilannya tentu sangat bergantung pada pembagian kewenangan yang tegas, mekanisme koordinasi yang efektif, serta sistem evaluasi yang berjalan konsisten — demi terwujudnya lingkungan hidup yang hijau, aman, dan sehat bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. (*/Andrian)






