Lahat, Radar Keadilan – Suasana politik di Kabupaten Lahat kembali memanas menyusul pernyataan kontroversial yang dilontarkan Anggota DPRD Kabupaten Lahat dari Fraksi NasDem, Harlin Kurniawansyah.
Dalam kegiatan reses tahap II di Dapil VI, Jumat (10/4/2026), ia menyebut Bupati Lahat, H. Bursah Zarnubi, dengan sebutan “Bupati Paok” yang dinilai bernada merendahkan.
Menanggapi hal tersebut, Bursah Zarnubi tidak tinggal diam. Ia menegaskan bahwa sebutan tersebut tidak tepat sasaran karena program pengembangan “Tebat” atau kolam ikan bukan sekadar bahan candaan atau lelucon politik, melainkan sebuah strategi besar yang dirancang secara matang untuk kemajuan ekonomi daerah.
“Saya tidak tahu persis apa maksud dan tujuannya memberikan sebutan seperti itu. Namun yang jelas, program Tebat ini bukan bahan untuk disindir. Ini adalah program yang serius, berbasis kajian, dan memiliki tujuan mulia untuk kesejahteraan masyarakat,” tegas Bursah dengan tegas.
Bursah menjelaskan, pengembangan sektor perikanan melalui program Tebat merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi alam yang selama ini belum digarap secara maksimal.
Ia menilai sangat ironi jika daerah yang memiliki sumber daya alam melimpah justru masih bergantung pada pasokan ikan dari daerah lain.
“Potensi kita sangat besar, sayang jika dibiarkan begitu saja. Masakan kita sebagai daerah yang kaya air justru harus mendatangkan ikan dari luar seperti dari Lubuklinggau? Ini adalah masalah yang sedang kita benahi dan cari solusinya,” ungkapnya.
Lebih jauh, Bupati menjabarkan bahwa program ini memiliki dampak luas, mulai dari peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), pembukaan lapangan kerja baru, hingga peningkatan taraf ekonomi masyarakat akar rumput.













