OKU Selatan, Radar Keadilan – Kepergian dr. Myta Aprilia Azmy, dokter muda yang tengah menjalani program internship, tidak hanya menyisakan duka mendalam, tetapi juga memantik sorotan tajam terhadap kondisi kerja dan sistem penempatan tenaga medis muda di lapangan.
Sosok yang dikenal hangat dan berkomitmen tinggi itu menghembuskan nafas terakhir setelah sebelumnya menjalani perawatan intensif di ICU RSUP Dr. Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang.
Di balik kesuksesannya mengabdikan diri untuk dunia medis, dr. Myta dikenal sebagai pribadi yang mencintai profesinya sepenuh hati.
Dalam catatan pribadinya, ia pernah menuliskan komitmen yang kuat, “Saya benar-benar menikmati pekerjaan saya dan berkomitmen memberikan yang terbaik di setiap situasi klinis.”

Dedikasinya tidak hanya terlihat dari profesionalitasnya, tetapi juga dari nilai empati yang ia junjung tinggi terhadap setiap pasien.
Bagi wanita muda ini, keluarga merupakan sumber kekuatan utama, sementara kesederhanaan dan hobi seperti merawat hewan peliharaan serta bermain gim menjadi pelipur lelah di tengah kesibukan yang padat.
Namun, kabar duka yang menyebar luas sejak Jumat (1/5/2026) ini memunculkan berbagai pertanyaan kritis terkait standar keselamatan kerja.
Pengurus Besar Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (IKA FK Unsri) mengambil langkah tegas dengan melayangkan surat resmi kepada Kementerian Kesehatan RI tertanggal 30 April 2026.
Dalam surat tersebut, terungkap sejumlah temuan fakta yang dinilai sangat mengkhawatirkan dan berpotensi membahayakan keselamatan dokter internship di RSUD K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi, lokasi tempat dr. Myta bertugas.










