Pihak kecamatan akan melakukan pemantauan berkelanjutan terhadap kinerja desa berdasarkan data tersebut, sehingga keakuratan informasi menjadi prioritas utama untuk menghindari kesalahan dalam penentuan sasaran program.

“Kami fokus memastikan akurasi data karena kesalahan informasi akan membuat program tidak tepat sasaran. Khususnya di wilayah tengah Kabupaten Sidoarjo, termasuk Desa Sidodadi, terdapat sepertiga dari delapan desa dengan angka stunting yang masih tinggi. Meskipun banyak warga mengkonsumsi makanan bergizi seperti ayam, perkembangan angka belum menunjukkan perbaikan optimal. Hal ini memerlukan klarifikasi mendalam terkait validitas data dan efektivitas strategi program yang diterapkan,” tambah narasumber.
Pihak desa mengingatkan seluruh kader untuk menyusun administrasi keuangan dan pembukuan dengan ketat, di mana setiap item pengeluaran dicatat secara jelas dan terstruktur.
Laporan Surat Pertanggungjawaban Keuangan (SPJ) harus disampaikan ke kantor desa sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Selain itu, perwakilan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga memberikan masukan terkait pengelolaan anggaran yang telah disusun secara ringkas dan terintegrasi.
Pada akhir kegiatan, pihak desa mengajak seluruh kader untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kinerja hingga akhir tahun 2024, dengan semangat kolaboratif dan tanpa memberatkan pihak manapun.
Diharapkan dukungan yang lebih luas di masa depan akan memungkinkan program penanganan stunting dan pelayanan posyandu berjalan lebih optimal tanpa hambatan batasan anggaran yang terlalu ketat.
Komitmen Desa Tenggulunan untuk meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat semakin terukir melalui kegiatan ini – sejalan dengan tujuan awal yang mengedepankan transparansi dan efektivitas program bagi kesejahteraan seluruh warga. (*/Dicky)








