Bagi warga, momen jelang dan saat Hari Raya Idul Adha seharusnya menjadi waktu perayaan, namun justru berubah menjadi kekhawatiran akibat gangguan pasokan vital ini.
“Sangat mengecewakan kami semua. Selama bertahun-tahun SPBU ini selalu buka 24 jam tanpa henti, tapi sejak semalam mendadak tutup dengan alasan bensin subsidi kosong. Pilihan untuk membeli jenis non-subsidi sangat berat bagi kondisi ekonomi kami saat ini, apalagi jika harus mencari di tempat lain atau eceran yang harganya melambung tinggi,” ungkap salah satu warga yang terlihat sedang mengantre namun akhirnya harus pulang tanpa mendapatkan bahan bakar.

Dampak nyata dirasakan oleh berbagai kalangan. Pengendara sepeda motor mengaku kesulitan melakukan perjalanan kerja maupun mengantar anggota keluarga yang hendak melaksanakan ibadah hari raya.
Sementara itu, para pengemudi angkutan umum dan kendaraan logistik terpaksa memarkirkan armada mereka atau menghabiskan waktu berjam-jam mengantre tanpa kepastian layanan, yang berujung pada penurunan pendapatan secara drastis di saat kebutuhan biaya hidup justru meningkat.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan resmi maupun keterangan rinci dari manajemen SPBU 24.306.30 maupun perwakilan Pertamina terkait penyebab keterlambatan pendistribusian atau faktor yang memicu kekosongan stok yang terjadi tepat di momen hari besar keagamaan ini.
Masyarakat setempat sangat berharap pihak berwenang dan manajemen Pertamina segera mengambil langkah cepat dan tegas untuk mengatasi krisis ini. Keberadaan SPBU tersebut memiliki peran strategis sebagai urat nadi transportasi utama di Kabupaten OKI, sehingga pemulihan pasokan menjadi kebutuhan mendesak agar aktivitas sosial dan ekonomi warga dapat kembali berjalan normal.
Redaksi Radar Keadilan senantiasa memantau perkembangan situasi dan menanti penjelasan resmi serta solusi nyata dari pihak terkait demi kepentingan bersama masyarakat Kayuagung. (*/Red)









