Jakarta, Radar Keadilan – Pernyataan tegas dan tantangan terbuka yang dilontarkan Utusan Khusus Presiden, Hashim Djojohadikusumo, terhadap para pengkritik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagaikan melempar puntung api ke tumpukan jerami kering.
Sikap konfrontatif ini tidak hanya memicu gelombang penolakan luas dari kalangan mahasiswa dan masyarakat, tetapi juga menimbulkan perpecahan di dalam organisasi yang didirikannya sendiri, Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS).
Ketegangan seputar pelaksanaan program yang dianggarkan sebesar Rp335 triliun ini mencapai puncaknya.
Dalam pernyataan di hadapan publik, Hashim menegaskan bahwa program tersebut merupakan kesepakatan politik pemerintah yang tidak dapat ditawar, bahkan menyatakan kesediaannya untuk mendatangi langsung kampus-kampus guna berhadapan dengan para pengkritik.
Langkah ini ditafsirkan secara luas sebagai bentuk arogansi kekuasaan yang mengabaikan pertanyaan mendasar mengenai efektivitas, transparansi, dan kebutuhan utama masyarakat yang masih menghadapi tantangan kemiskinan sistemik.
Reaksi cepat bermunculan dari berbagai penjuru. Aliansi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil turun ke jalan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Medan.
Mereka mempertanyakan alokasi dana yang sangat besar tersebut, menilai berisiko menimbulkan pemborosan dan penyimpangan di tengah keterbatasan anggaran untuk sektor lain yang juga mendesak.
Tekanan dari luar ternyata disertai pula dengan goncangan dari dalam rumah tangga organisasi binaan Hashim sendiri.
FORMAS, yang dibentuk untuk mengawal dan mendukung program-program pemerintah, justru menunjukkan tanda-tanda kehilangan kesatuan arah dan mulai terbelah.
Salah satu tokoh Koalisi FORMAS, KH. Maksum Hidayatullah, menyampaikan kekecewaannya.












