“Kemajuan teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk hal-hal positif. Namun, sayangnya, ada pihak-pihak tertentu yang justru menggunakannya untuk menyebarkan hoaks. Oleh karena itu, edukasi seperti ini sangat penting untuk membekali masyarakat dengan kemampuan membedakan berita yang benar dan hoaks,” tegasnya.
Materi inti disampaikan oleh Arief Nuryadin, S.Pd., S.H., M.M, Ketua Advokasi dan Hukum DPD SWI Sidoarjo, yang menjelaskan definisi hoaks, ciri-cirinya, cara mengecek kebenaran informasi, serta perbedaan antara hoaks dan produk jurnalistik.
“Hoaks adalah pemberitaan yang tidak berdasarkan fakta atau kebenaran, yang bertujuan untuk menyesatkan dan merugikan masyarakat,” jelas Arief.
Pembina DPD SWI Sidoarjo, Hadi Martono, S.H, menambahkan bahwa penting bagi masyarakat untuk selalu kritis terhadap informasi yang diterima.

“Jangan mudah percaya dengan berita yang sumbernya tidak jelas. Selalu lakukan verifikasi dan konfirmasi sebelum menyebarkan informasi kepada orang lain,” pesannya.
Kegiatan sosialisasi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya literasi digital di kalangan generasi muda.
Dengan kemampuan memilah informasi yang benar, diharapkan mereka dapat menjadi agen perubahan yang cerdas dan bertanggung jawab dalam menggunakan media digital. (Dicky)












