“Rumah yang baru saja kami bangun pun habis disapu air. Banyak keluarga di sini kehilangan segalanya. Semuanya terjadi begitu cepat, kami tidak sempat menyelamatkan apa pun,” tambahnya.
Samsurdi, wartawan Meuligoeberita.com yang juga Humas SWI Aceh Barat, turut menjadi korban dalam musibah ini.
“Kami sekeluarga berhasil menyelamatkan diri saat banjir mulai naik. Namun, rumah kami tidak ada lagi. Semuanya hilang, kerugian juga mencapai ratusan juta,” ungkapnya singkat.
Akses jalan utama menuju sejumlah desa di Beutong Ateuh Banggalang juga terputus total.
Jembatan penghubung dan ruas jalan yang berada dekat dengan sungai tergerus, menyebabkan bantuan sulit menjangkau titik-titik pengungsian. Warga kini bertahan dengan logistik seadanya, mengandalkan dapur umum darurat yang dikelola oleh relawan setempat.
Para korban berharap pemerintah daerah segera melakukan pendataan mendetail terkait warga yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda.
Banta menekankan pentingnya perhatian serius dari pemerintah, mengingat banyak keluarga yang kini tinggal tanpa alas, selimut, maupun perlengkapan dasar.

“Kami berharap pendataan dilakukan secepatnya. Banyak warga kehilangan segalanya. Kami butuh perhatian dari pemerintah daerah maupun provinsi,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, proses evakuasi dan pendistribusian bantuan masih terkendala cuaca buruk dan akses jalan yang terputus. Sejumlah relawan, aparat TNI-Polri, dan petugas BPBD Nagan Raya terus berupaya membuka akses dan menyalurkan bantuan darurat.
Banjir bandang ini menjadi salah satu bencana terbesar yang melanda Nagan Raya pada tahun 2025, menimbulkan dampak fisik, material, dan psikologis yang mendalam bagi warga Beutong Ateuh Banggalang. (*/Red)











