Palembang, Radar Keadilan – Di ambang pintu Ujian Akhir Semester, ketiga mahasiswi Program Studi Farmasi Universitas Aisyiyah (Unisa) Palembang sempat harus menelan pahitnya kenyataan: perjalanan pendidikan yang telah ditempuh hingga semester enam terancam berhenti seketika karena tunggakan biaya kuliah.
Rasa cemas yang memeluk dada dan air mata yang tak tertahan nyaris menghapus cita-cita yang selama ini mereka rajut bersama pengorbanan keluarga.
Namun, kebijakan yang mengedepankan nilai kemanusiaan akhirnya mengubah duka menjadi senyum, serta membuka kembali jalan bagi mereka untuk terus melangkah.
Peristiwa ini bermula saat persiapan ujian berlangsung hangat, ketika ketiga mahasiswi tersebut menerima informasi bahwa mereka tidak diperkenankan mengikuti Ujian Akhir Semester akibat belum menyelesaikan kewajiban pembayaran biaya kuliah.
Kabar itu seketika memadamkan semangat mereka, terlebih bagi Nabilah Nuraisah yang didampingi ayahnya, Diding Karnadi.
Selama berhari-hari, kekhawatiran akan terhentinya kuliah membuat keluarga putus asa, mengingat betapa beratnya pengorbanan yang telah dilakukan demi menyekolahkan anak hingga tingkat ini.
Bagi mereka, bangku kuliah bukan sekadar tempat mengejar gelar sarjana.
Di balik setiap jam belajar dan setiap tetes keringat orang tua, tersimpan harapan besar untuk mengubah nasib keluarga dan berkontribusi bagi masyarakat melalui keahlian di bidang kefarmasian.
Kekhawatiran itu perlahan terurai setelah Diding Karnadi berkesempatan berdialog langsung dengan Rektor Universitas Aisyiyah Palembang.
Berbeda dengan dugaan semula bahwa keputusan itu bersifat mutlak dan tak dapat diubah, pimpinan universitas justru menyambut baik aspirasi keluarga serta mempertimbangkan kesulitan ekonomi yang sedang dihadapi.











