
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kegiatan ini tidak boleh berhenti hanya sebagai seremonial semata, melainkan harus menjadi landasan bagi tindakan nyata yang terus berlanjut di lingkungan tempat tinggal masing‑masing peserta.
Ia juga menaruh harapan besar agar para peserta dapat berperan aktif sebagai penggerak dan pembina bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di lingkungan sekitarnya.
“Jangan sampai semangat dan keterampilan yang diperoleh berakhir bersamaan dengan berakhirnya kegiatan ini. Saya menginginkan seluruh peserta mampu menjadi teladan serta pendamping yang tangguh bagi para pelaku usaha setempat, sehingga manfaatnya dapat menyebar lebih luas dan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” tambahnya dengan tegas.
Untuk menjamin kualitas materi dan keberhasilan pelatihan, panitia telah menghadirkan narasumber yang berkompeten, yaitu Anggi Fitrilia Putri Pratama beserta tim dari Galeri Wong Kito.
Mereka secara terperinci dan mendalam membimbing para peserta menguasai seluruh teknik yang diajarkan, mulai dari penerapan metode eco cetak, teknik pewarnaan dengan bantuan uap, hingga keterampilan mengolah kain batik khas Banyuasin menjadi produk tas oleh‑oleh yang memiliki nilai seni, keunikan, serta mutu yang terjamin.
Melalui kegiatan ini, harapan besar tertanam agar warisan budaya berupa kain batik Banyuasin tidak hanya terus lestari, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi sumber kesejahteraan yang nyata.
Langkah ini sekaligus membuktikan bahwa potensi kreativitas masyarakat setempat memiliki kekuatan besar untuk mengangkat citra daerah sekaligus menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan di Kabupaten Banyuasin. (*/Sangkut)











