Palembang, Radar Keadilan – Guna mempercepat penyelesaian pembangunan lahan pertanian baru dan menjamin hasil panen pada tahun berjalan, Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP) di bawah Kementerian Pertanian menyelenggarakan rapat penyusunan rencana kerja sekaligus penegasan komitmen dukungan pemerintah daerah dan penyelesaian pekerjaan konstruksi cetak sawah di Provinsi Sumatera Selatan.
Pertemuan strategis tersebut dilaksanakan di Hotel Santika, Jalan Radial, Palembang, pada Selasa, 9 Juni 2026, dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam pelaksanaan program.
Kegiatan ini dihadiri oleh unsur pemerintah daerah, pelaksana konstruksi, tim pengawas lapangan, Pejabat Pembuat Komitmen beserta seluruh perangkat teknis terkait, dalam rangka menyatukan pemahaman dan langkah kerja demi keberhasilan program prioritas tersebut.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Dr. Ir. Hermanto, M.P., menegaskan bahwa kesamaan persepsi dan kejelasan peran masing-masing pihak merupakan syarat utama agar seluruh tahapan pekerjaan berjalan tepat waktu, sesuai spesifikasi teknis, dan mencapai sasaran yang ditetapkan.
“Seluruh pihak—mulai dari pelaksana konstruksi, tenaga pengawas, Pejabat Pembuat Komitmen, hingga tim teknis—wajib memiliki pemahaman yang seragam mengenai rencana dan pelaksanaan di lapangan. Kejelasan tugas dan tanggung jawab akan menjamin kelancaran pekerjaan dari tahap persiapan hingga selesai,” ujar Hermanto saat memimpin rapat tersebut.
Pemerintah pusat menargetkan seluruh pekerjaan konstruksi cetak sawah dapat diselesaikan secepat mungkin, sehingga lahan yang telah dibuka dan disiapkan dapat langsung dimanfaatkan untuk penanaman serta menghasilkan panen pada tahun 2026.
Langkah ini menjadi bagian utama kebijakan nasional untuk menaikkan tingkat produksi pangan dan memperkuat ketahanan pangan negara.
“Kami mendorong penyelesaian pekerjaan secepatnya agar lahan baru dapat langsung ditanami dan memberikan hasil panen tahun ini juga. Program cetak sawah merupakan langkah strategis untuk menambah luas lahan baku pertanian dan menjamin ketersediaan pangan yang cukup bagi seluruh rakyat,” tambahnya.
Hermanto juga menjelaskan bahwa peningkatan mutu dan produktivitas lahan berlangsung secara bertahap.
Pada tahap awal, hasil produksi mungkin belum mencapai potensi maksimal, namun seiring pemulihan kualitas tanah, penyediaan sarana produksi yang memadai, serta penerapan pola tanam yang tepat, produktivitas dan indeks pertanaman akan terus meningkat.
“Di permulaan, tingkat hasil panen belum tentu setara dengan lahan yang sudah lama diusahakan. Namun melalui pembenahan berkelanjutan, frekuensi penanaman dapat ditingkatkan dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam satu tahun. Hal ini akan berimbas langsung pada kenaikan hasil produksi dan pendapatan petani,” paparnya.
Melalui program ini, pemerintah berharap masyarakat tani dapat memanfaatkan lahan baru sebagai peluang nyata untuk meningkatkan volume produksi sekaligus memperbaiki taraf hidup dan kesejahteraan mereka dalam jangka panjang.
Sumatera Selatan ditetapkan sebagai salah satu wilayah prioritas pengembangan sektor pertanian, mengingat potensi lahan yang luas dan peran strategisnya dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Program cetak sawah yang dijalankan di provinsi ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam memperluas areal pertanian dan mengoptimalkan potensi wilayah demi kesejahteraan rakyat dan kedaulatan pangan negara. (*/Andrian)














