Rekam Jejak Lettu Inf Aboe Kosim Ternyata Hobi Berkelahi dan prank

Rekam Jejak Lettu Inf Aboe Kosim Ternyata Hobi Berkelahi dan prank

Berita, OKI, SEJARAH221 Dilihat
Spread the love
         
 
  
                 
   

Ogan Komering Ilir, RK.com – Rekam jejak seorang pejuang kemerdekaan republik Indonesia, Lettu Inf Aboe Kosim buah cinta dari pasangan M. Amin Jumbuk dan amsjah Madin yang terkenal bandel, hobi berkelahi dan prank orang yang berada didekatnya. Oleh sebab itulah, pejuang kemerdekaan ini selalu menjadi buah tutur para kerabat, sahabat dan tetangganya, siapa orang yang paling bandel dan prank dikampung dusun Kedaton yang kini lebih dikenal dengan sebutan kelurahan Kedaton.

Untuk mengungkap kebenaran rekam jejak sang pejuang kemerdekaan Ri ini, saat ditemui dikediaman salah seorang kerabat dan sahabat semasa kecilnya di kelurahan Kedaton, kecamatan Kayuagung, kabupaten OKI, M Yusuf bin Husin dengan sesekali menghela nafas panjang untuk mencoba mengungkapkan dan mengenang kembali nostalgia di masa masih anak-anak bersama para kerabat dan sahabatnya yang kini satu persatu telah memenuhi janjinya kepada Allah SWT. 

banner"300x300"title"300x300" banner"300x300"title"300x300"

Sembari tertawa dan meneteskan air mata ketika mengenang masa anak-anak, M Yusuf menceritakan kisah salah satu sahabat baiknya Aboe Kosim ketika masih anak-anak. “Aboe Kosim itu anaknya paling bandel dan suka prank siapa saja orang yang berada didekatnya. Namun dibalik itu semua, Aboe Kosim orangnya tegas, baik dan paling enak ketika dimintai solusi,” Kisah M Yusuf.

Kehidupan Awal

Aboe Kosim atau yang lebih akab disapa Kosim Tokak, lahir di dusun Kedaton (Kelurahan Kedaton.red), kecamatan Kayuagung, kabupaten OKI pada hari Kamis 15 April 1926, merupakan putra kedua dari lima bersaudara, diantara ke empat saudaranya, Aboe Kosim merupakan satu-satunya anak laki-laki.  

Ketika beranjak remaja, sikap, watak dan tingkah lakunya tak kunjung jera, hobi berkelahi dan prank orang didekatnya. Sehingga membuat kedua orang tuanya selalu berurusan ke kantor Kerio (kantor desa) dan ke kantor Pasirah (kantor kecamatan) untuk menyelesaikan permasalahan yang di lakukannya, hingga harus hijrah dari kampung halaman ke kota Palembang.   

Dari sekian banyak permasalahan yang dilakukan Aboe Kosim, di tahun 1938 M Amin Jumbuk orang tua Aboe Kosim memutuskan untuk membawa kembali ke kampung halamannya di dusun kedaton guna mendidik dan membatasi pergaulan anaknya yakni Aboe Kosim. Sehingga, Aboe Kosim hanya sampai menempuh pendidikan selama 4 tahun pada Sekolah Rakyat (SR) atau yang sekarang setara Sekolah Dasar (SD).

Ditahun 1943 di saat berusia 17 tahun, Aboe Kosim kembali membuat masalah berkelahi dengan sahabatnya, hingga membuat orang tuanya murka dan mengusirnya dari rumah. Dengan hati kesal dan emosi lantaran di usir dari rumah, kemudian dirinya memutuskan untuk pergi ke kota Palembang dan tidur digubuk tak berpenghuni di sungai Gerong.

Militer dan Riwayat Jabatan

November 1943, Aboe Kosim memutuskan untuk bergabung bersama pasukan Jepang atau tentara angkatan darat jepang (Hai Ho), dan diterima dalam kesatuan Hasan Butai dengan mengikuti latihan di lapangan Rambutan Sungai Gerong Palembang, berpangkat Jotohei atau garis kuning panjang tiga (Pribadi Unggul).

Tahun 1945, pasca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia Aboe Kosim bergabung ke Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). 

Agustus 1945 – April 1946 Masuk susunan Devisi I Garuda Merah, yang dipimpin oleh Kolonel Hasan Kasim.

April 1946 – Sept 1946 menjadi Polisi Tentara (P/T) dipimpin oleh Letnan Sudirto/Pandroch Nur Amin dan regu I. Pelton I. jang dipimpin oleh Sersan Mayor O.M Hanan/HA. Ahmad.

Sept 1946-Juli 1947 pangkat sersan I masuk susunan staf resimen 44 Devisi Garuda Merah dan Garuda Merah Dua berkedudukan di tanjung raja/kayuagung Komring Ilir/Palembang yang dipimpin Mayor M. Rasjad Nanawi/Kapten Alamsjah/Kapten Sanaf/Kapten Robani).

Juli 1947-Okt 1947 Masuk susunan batalijon 24 pangkat sersan I memegang seksi istimewa yang dipimpin oleh Kapten M.R. Rijakudu/Letda Nuh Matjan. Dan seksi istimewa dipimpin oleh Letenan Nadjamudin/H.S Simandjuntak.

Okt 1947-April 1948 Pangkat Sersan Mayor Pelatih dilangka pura tandjung karang lampung selatan dipimpin oleh Kapten M.R Rijakudu/ H.S. Simanjuntak.

April 1948-Nov 1949 Masuk susunan batalijon 12 Pangkat sersan major seksi P.K.Kompi I.P.K. dipimpin oleh Letenan II Sumadji/Inspektur I. Hasibuan dan Jon 12 Major Rasjat Nawawi.

Nov 1949-Feb 1950 Masuk susunan kompi Batalijon 23 lahat berpangkat sersan major berkedudukan di sekaju dibawah pimpinan Lettu Sulaiman Amin Batalijon dipimpin Major Rasjat Nawawi.

Feb 1950-Okt 1951 Masuk Kompi I Batalijon 207 mengikuti Operasi Ke Ambon Sulawesi Selatan dipimpin Kapten Latu Pariza.

Okt 1951-April 1952 Masuk Kompi II Batalijon 205 B.Z menjadi Danru (Komanda Regu) mengikuti Uperasi Djawa Barat berkedudukan ditasik malaja dipimpin oleh Kapten Bargowo/Lettu H.S Simanjuntak.

April 1952-Mart 1953 batalijon 205 B.Z dirobah mendjadi BB. “A” dan angkutan dipimpin oleh Lettu H.S Simanjuntak.

Mart 1953-April 1954 Bintara angkutan Batalijon “A” BZ.TT. II berkedudukan di KM 4 1/2 Palembang – Sumsel dan mengikuti Kursus Teritorial jang dilaksanakan oleh teritorium dikepalai oleh perwira seksi

April 1954-Nov 1955 mengikuti Batalijon A Operasi kepala angkutan berkedudukan di bandjar Patroman Djawa barat Komandan Batalion Kapten Saihusin/Lettu A. Wahabuzir