Dar Edi Yoga menambahkan, kewaspadaan harus berjalan seiring dengan tanggung jawab dan kebijaksanaan.
Pesan spiritual, katanya, direnungkan sebagai dorongan memperbaiki perilaku, sementara informasi mengenai kesehatan dan potensi wabah tetap harus merujuk pada penilaian dan keputusan otoritas kesehatan yang berwenang.
“Bagi kami insan pers, keberanian menyampaikan kebenaran adalah tanggung jawab moral. Namun, setiap informasi disampaikan secara jernih dan bertanggung jawab, sehingga masyarakat dapat membedakan dengan jelas antara keyakinan spiritual, peringatan, dan fakta yang telah diverifikasi secara ilmiah,” tegasnya.
Perjalanan spiritual keempat jurnalis tersebut juga mencakup kunjungan ke sejumlah lokasi bersejarah dan bermakna spiritual di kawasan Danau Toba, antara lain Air Terjun Tiga Rasa, Istana Raja Sisingamangaraja, Batu Sawan, serta Pusuk Buhit pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Di lokasi-lokasi tersebut, mereka merenung dan berdoa bersama.
Perjalanan dua hari itu bukan sekadar kunjungan fisik, melainkan ruang perenungan tentang makna kebenaran, tanggung jawab, dan pentingnya membangun hubungan yang harmonis dengan sesama serta alam sekitar.
Perlu ditegaskan: Pernyataan mengenai kemungkinan munculnya wabah merupakan pandangan spiritual yang disampaikan dalam konteks keyakinan dan refleksi.
Kewaspadaan terhadap masalah kesehatan masyarakat tetap harus didasarkan pada informasi resmi, data ilmiah, dan arahan dari instansi kesehatan yang berwenang.
Insan pers menyajikan informasi ini sebagai wujud keberagaman pandangan masyarakat, bukan sebagai peringatan medis atau fakta yang telah terverifikasi secara ilmiah. (**)








