Warisan Budaya OKI: Ketek, Lebih dari Sekadar Perahu, Identitas yang Terus Mengalir

Warisan Budaya OKI: Ketek, Lebih dari Sekadar Perahu, Identitas yang Terus Mengalir

Spread the love
         
 
  
                 
   
Para pengrajin muda meneruskan tradisi pembuatan ketek, warisan budaya yang tak lekang oleh waktu./radarkeadilan.com

“Keahlian ini saya dapatkan secara turun-temurun. Alhamdulillah, pesanan terus mengalir,” kata Suherman.

Bahkan banyaknya pesanan, pembeli harus rela mengantri hingga satu tahun untuk mendapatkan ketek impian mereka.

banner"300x300"title"300x300" banner"300x300"title"300x300"

Harga Bervariasi, Kualitas Tetap Nomor Satu

Harga satu unit ketek berkisar antara Rp. 8 – 40 juta, tergantung spesifikasi yang diinginkan pemesan. Meski demikian, kualitas tetap menjadi prioritas utama para pengrajin.

Proses finishing ketek, perpaduan antara tradisi dan inovasi./radarkeadilan.com

“Kami selalu berusaha memberikan yang terbaik. Kualitas kayu, mesin, dan cat yang kami gunakan selalu yang terbaik,” tegas Suherman.

Pelestarian Warisan Budaya untuk Masa Depan

Pembuatan perahu kayu di Desa Simpang Tiga adalah bukti nyata bahwa warisan budaya dapat menjadi sumber penghidupan, identitas, dan inspirasi bagi generasi muda. Pelestarian potensi lokal ini adalah tugas bersama, demi masa depan desa yang berakar pada kekuatan lokal.

Sentuhan akhir yang penuh warna, menghidupkan kembali ketek tradisional Ogan Komering Ilir./radarkeadilan.com

“Kami berharap, tradisi pembuatan ketek ini akan terus hidup dan berkembang di desa kami. Ini adalah warisan yang tak ternilai harganya,” pungkas Suherman. (*/Red)