Data resmi dari dinas terkait mencatat, wilayah terdampak meliputi Kecamatan Lempuing, Lempuing Jaya, Jejawi, dan Air Sugihan.
Kedua kecamatan utama yaitu Lempuing dan Lempuing Jaya menjadi fokus penanganan, mengingat peranannya sebagai sumber pasokan pangan terbesar di OKI.
“Bantuan ini bukan sekadar dukungan simbolis, melainkan harapan konkrit bagi petani untuk bangkit kembali demi ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan masyarakat lokal,” jelas Muchendi.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kabupaten OKI, Alexsander Bustomi, menjelaskan sebagian besar lahan terdampak sebelumnya telah mencapai indeks pertanaman (IP) 200 bahkan hingga 300.
Kondisi ini membuka peluang luas bagi petani untuk melakukan tanam ulang segera setelah lahan mengering, meskipun terjadi sedikit perlambatan dalam jadwal tanam.
“Kami optimistis produksi tidak akan mengalami penurunan signifikan, terutama di wilayah Lempuing, Lempuing Jaya, dan sebagian Kecamatan Air Sugihan yang telah memiliki IP tinggi sebelum terendam banjir,” ucap Alexsander.
Sumarno, petani dari Desa Sumber Makmur, Kecamatan Lempuing, mengakui bantuan benih sangat mengurangi beban finansial setelah hasil panen sebelumnya gagal total akibat banjir yang berlangsung beberapa hari.
“Tanpa bantuan ini, kami harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli benih sendiri. Dengan adanya bantuan ini, kami siap menanam segera setelah lahan kering,” ungkapnya.
Petani lain, Suyatno, menekankan pentingnya dukungan penyuluhan agar proses tanam ulang berjalan optimal dan tidak terlalu tertinggal dari musim tanam yang telah ditentukan.
“Kami ingin tanam secepatnya supaya tidak terlalu tertinggal musim,” katanya.
Saat ini, bantuan benih yang telah disalurkan hanya mampu mencakup kebutuhan di Kecamatan Lempuing.
Pemerintah Kabupaten OKI tengah mengupayakan tambahan bantuan melalui Cadangan Benih Nasional (CBN) Kementerian Pertanian dan sumber lainnya.
Proses pengusulan dilakukan setelah melalui verifikasi resmi oleh petugas Pengendalian Operasional Pertanaman Terpadu (POPT) untuk menentukan status lahan yang benar-benar dinyatakan gagal panen (puso).
“Kami menyadari bantuan saat ini belum mencukupi seluruh kebutuhan. Oleh karena itu, mekanisme verifikasi dan pengusulan bantuan lanjutan akan dilakukan secara terstruktur untuk memastikan distribusi tepat sasaran,” jelas Alexsander.
Dengan langkah-langkah terpadu ini, pemerintah dan petani bersinergi untuk memulihkan sektor pertanian OKI dan memastikan ketahanan pangan tetap terjaga—sejalan dengan tujuan awal pemberian bantuan yang bertumpu pada kolaborasi dan perhatian penuh terhadap kesejahteraan masyarakat terdampak. (*/Red)














