“Karena air bersih menyangkut hajat hidup orang banyak, kalau perlu, nggak usah ada batas waktu untuk pelayanan air bersih ke masyarakat. Jadi, siapapun pemimpinnya nanti, program ini bisa tetap berjalan,” tuturnya.
Selain persoalan teknis dan administrasi, Bupati Muchendi juga menekankan perlunya komunikasi intensif dengan masyarakat, terutama dalam hal pembebasan lahan. Ia mengingatkan pentingnya pendekatan yang persuasif agar tidak terjadi konflik di kemudian hari.
“Yang paling susah ini komunikasinya dengan masyarakat. Kalau dengan PT kita masih bisa cari solusi. Tapi kalau sudah berbenturan dengan masyarakat, apalagi tanpa ganti rugi, itu yang repot,” kata Bupati.
Dalam rapat tersebut, ia juga mengapresiasi kontribusi pihak swasta seperti PT OKI Pulp and Paper dan PT SAM EL dalam mendukung pembangunan infrastruktur, termasuk perbaikan jalan. Ia berharap tanggung jawab dapat dibagi secara adil antara pihak swasta dan pemerintah.
“Soal jalan, Kita pengen bagi tugas. Yang penting ada rumusan bersama, programnya jelas dan terarah,” jelasnya.
Bupati juga menyinggung keterlibatan pihak swasta dalam penanganan masalah stunting. Ia membuka ruang bagi perusahaan untuk menyalurkan bantuan sosial melalui data keluarga rentan stunting yang sudah dimiliki Pemkab OKI.
“Kalau mau bantu CSR atau secara pribadi, kita punya datanya. Silakan dibina keluarga-keluarga rentan ini supaya bantuan tepat sasaran,” ajaknya.
Menutup sambutannya, Bupati Muchendi menekankan pentingnya koordinasi lanjutan dengan Kementerian PUPR, terutama untuk memastikan dukungan anggaran dari pusat. Ia menyatakan kesiapan untuk turun langsung bersama pihak terkait ke kementerian.
“Kuncinya di anggaran. Kalau dokumen lengkap tapi duitnya nggak ada, ya percuma. Jadi, mari kita selesaikan semuanya dulu. Insyaallah pusat juga akan merespon cepat kalau kita sudah siap,” tutup dia. (Lisin/Ril)
Sumber : Diskominfo OKI










