Oleh karena itu, program pemantauan aktif ini menyasar 7.500 anak usia 6–10 tahun di 60 sekolah dasar yang berada di 10 wilayah kerja puskesmas dengan laporan kasus DBD tertinggi.
Sebanyak 5.000 anak akan menerima vaksin dua dosis dengan interval tiga bulan, dan akan dipantau secara ketat selama tiga tahun ke depan.
Ketua Pelaksana Pemantauan Aktif, dr. Ariesti Karmila, Sp.A(K)., M.Kes., menjelaskan bahwa vaksinasi merupakan pelengkap dari strategi 3M Plus dan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik.
“Dengan pendekatan komprehensif, kita dapat menekan rantai penularan DBD secara berkelanjutan,” tegasnya.
Riset dan Kolaborasi: Pilar Utama Program
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Prof. Dr. dr. Mgs. Irsan Saleh, M.Biomed, menegaskan bahwa program ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan akan menghasilkan data ilmiah yang valid sebagai dasar penguatan kebijakan kesehatan di daerah.
Secara nasional, pemantauan aktif ini dikoordinasikan oleh Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K). Program serupa juga dijalankan di Banjarmasin dan Jakarta, serta menjadi bagian dari studi multinegara di Thailand dan Malaysia.
Di luar program ini, vaksinasi DBD juga telah diinisiasi di sejumlah daerah seperti Balikpapan, Samarinda, Kutai Kartanegara, Probolinggo, dan Minahasa Utara atas inisiatif pemerintah daerah masing-masing.
Head of Medical Affairs PT Takeda Innovative Medicines, dr. Arif Abdillah, menyatakan dukungan penuh terhadap kolaborasi lintas sektor yang konsisten dan berbasis sains untuk memperkuat perlindungan masyarakat dari risiko DBD.
Dengan kombinasi penguatan perilaku hidup bersih dan sehat, pemberantasan sarang nyamuk, serta vaksinasi yang dipantau secara aktif, Sumatera Selatan optimis mampu menekan angka kejadian dan kematian akibat DBD secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang.
Langkah ini diharapkan menjadi model bagi daerah lain dalam upaya mencapai Indonesia bebas DBD. (*/Andrian)












