Palembang, Radar Keadilan – Sumatera Selatan mengambil langkah progresif dalam memerangi demam berdarah dengue (DBD) dengan meresmikan program Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue di Kota Palembang, Rabu (19/2/2026).
Inisiatif ini menjadi bagian integral dari strategi jangka panjang untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat DBD, dengan target ambisius mencapai nol kematian pada tahun 2030.
Peluncuran program di Palembang ini merupakan tindak lanjut dari kick off nasional yang sebelumnya diadakan di Jakarta.
Di Sumatera Selatan, program ini melibatkan kolaborasi erat antara Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel, Dinas Kesehatan Kota Palembang, dan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya sebagai pelaksana utama.
Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, dalam sambutannya menegaskan bahwa DBD bukan sekadar penyakit musiman, melainkan masalah kesehatan serius yang memerlukan respons berkelanjutan dan berbasis data.
“Pengendalian vektor dan edukasi masyarakat tetap menjadi fondasi utama. Namun, tantangan kompleks dari DBD menuntut inovasi berbasis ilmiah, termasuk vaksinasi dan pemantauan aktif yang intensif,” ujarnya.
Palembang: Episentrum Kasus DBD
Data dari Dinas Kesehatan Sumsel mencatat, sepanjang tahun 2025, terdapat 4.437 kasus DBD dengan 22 kematian.
Kota Palembang menjadi penyumbang kasus tertinggi, dengan 968 kasus dan 3 kematian.
Dalam lima tahun terakhir, kelompok usia 15–44 tahun menyumbang kasus terbesar (42%), namun angka kematian tertinggi dalam tujuh tahun terakhir justru terjadi pada anak usia 5–14 tahun (41%).
Fakta ini menggarisbawahi bahwa anak usia sekolah adalah kelompok yang paling rentan.












