Inisiatif ini menjadi bagian integral dari strategi jangka panjang untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat DBD, dengan target ambisius mencapai nol kematian pada tahun 2030.
Peluncuran program di Palembang ini merupakan tindak lanjut dari kick off nasional yang sebelumnya diadakan di Jakarta.
Di Sumatera Selatan, program ini melibatkan kolaborasi erat antara Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel, Dinas Kesehatan Kota Palembang, dan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya sebagai pelaksana utama.
Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, dalam sambutannya menegaskan bahwa DBD bukan sekadar penyakit musiman, melainkan masalah kesehatan serius yang memerlukan respons berkelanjutan dan berbasis data.
“Pengendalian vektor dan edukasi masyarakat tetap menjadi fondasi utama. Namun, tantangan kompleks dari DBD menuntut inovasi berbasis ilmiah, termasuk vaksinasi dan pemantauan aktif yang intensif,” ujarnya.
Palembang: Episentrum Kasus DBD
Data dari Dinas Kesehatan Sumsel mencatat, sepanjang tahun 2025, terdapat 4.437 kasus DBD dengan 22 kematian.
Dalam lima tahun terakhir, kelompok usia 15–44 tahun menyumbang kasus terbesar (42%), namun angka kematian tertinggi dalam tujuh tahun terakhir justru terjadi pada anak usia 5–14 tahun (41%).
Fakta ini menggarisbawahi bahwa anak usia sekolah adalah kelompok yang paling rentan.
Oleh karena itu, program pemantauan aktif ini menyasar 7.500 anak usia 6–10 tahun di 60 sekolah dasar yang berada di 10 wilayah kerja puskesmas dengan laporan kasus DBD tertinggi.
Sebanyak 5.000 anak akan menerima vaksin dua dosis dengan interval tiga bulan, dan akan dipantau secara ketat selama tiga tahun ke depan.
Ketua Pelaksana Pemantauan Aktif, dr. Ariesti Karmila, Sp.A(K)., M.Kes., menjelaskan bahwa vaksinasi merupakan pelengkap dari strategi 3M Plus dan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik.
“Dengan pendekatan komprehensif, kita dapat menekan rantai penularan DBD secara berkelanjutan,” tegasnya.
Riset dan Kolaborasi: Pilar Utama Program
Secara nasional, pemantauan aktif ini dikoordinasikan oleh Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K). Program serupa juga dijalankan di Banjarmasin dan Jakarta, serta menjadi bagian dari studi multinegara di Thailand dan Malaysia.
Di luar program ini, vaksinasi DBD juga telah diinisiasi di sejumlah daerah seperti Balikpapan, Samarinda, Kutai Kartanegara, Probolinggo, dan Minahasa Utara atas inisiatif pemerintah daerah masing-masing.
Head of Medical Affairs PT Takeda Innovative Medicines, dr. Arif Abdillah, menyatakan dukungan penuh terhadap kolaborasi lintas sektor yang konsisten dan berbasis sains untuk memperkuat perlindungan masyarakat dari risiko DBD.
Dengan kombinasi penguatan perilaku hidup bersih dan sehat, pemberantasan sarang nyamuk, serta vaksinasi yang dipantau secara aktif, Sumatera Selatan optimis mampu menekan angka kejadian dan kematian akibat DBD secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang.
Langkah ini diharapkan menjadi model bagi daerah lain dalam upaya mencapai Indonesia bebas DBD. (*/Andrian)














