Lampung Timur, Radar Keadilan – Hamparan hutan mangrove yang kini tumbuh rindang di kawasan pesisir Pasir Sakti, Kabupaten Lampung Timur, menyimpan kisah perjuangan panjang dalam mengembalikan fungsi lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kawasan yang dulunya terancam hilang akibat abrasi parah, kini menjelma menjadi benteng alami sekaligus sumber ekonomi yang berkelanjutan.
Kondisi paling kritis terjadi pada tahun 1995, ketika gelombang laut terus menggerus garis pantai hingga memaksa sejumlah warga meninggalkan tempat tinggal mereka.
Samsudin, Ketua Kelompok Tani Hutan Mutiara Hijau I, mengakui bahwa perpindahan tempat tinggal menjadi pengalaman yang melelahkan bagi warga setempat.
“Kami sudah berulang kali berpindah tempat karena daratan terus tergerus. Wilayah tempat tinggal lama sudah tidak lagi layak dihuni, sehingga kami harus mencari tempat yang lebih aman,” ungkapnya.
Berangkat dari pengalaman tersebut, warga secara swadaya memulai upaya penanaman mangrove pada awal tahun 2000-an.
Di tengah keterbatasan sarana dan dana, mereka terus meyakinkan sesama warga bahwa tanaman ini bukan sekadar tumbuhan pesisir, melainkan pelindung utama sekaligus penopang keberlangsungan hidup.
Upaya tersebut membuahkan hasil nyata. Pertumbuhan mangrove yang semakin lebat mampu menahan laju abrasi, memperbaiki kualitas air dan tanah, serta memulihkan habitat berbagai biota laut yang menjadi sumber pangan dan mata pencaharian.
Proses pemulihan berjalan lebih cepat berkat dukungan yang diberikan oleh PT Bukit Asam (Persero) Tbk.
Kolaborasi ini memungkinkan kelompok masyarakat untuk memperluas areal tanam secara signifikan.
“Dalam kurun waktu dua tahun, kami berhasil menanam puluhan ribu bibit mangrove berkat dukungan yang diberikan. Terbaru, perusahaan kembali menyalurkan 10.000 bibit dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026,” jelas Samsudin.
Ia menambahkan bahwa manfaat mangrove tidak dapat dinilai secara instan seperti tanaman pertanian lainnya, namun dampaknya terasa secara terus-menerus bagi lingkungan dan kehidupan warga.
Sementara itu, Kepala Divisi Keberlanjutan PT Bukit Asam (Persero) Tbk, Dedy Saptaria Rosa, menyatakan bahwa program ini merupakan wujud komitmen perusahaan dalam melaksanakan tanggung jawab lingkungan dan sosial.
“Bagi kami, keberlanjutan usaha tidak terlepas dari kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Program ini membuktikan bahwa sinergi antara perusahaan dan warga mampu menciptakan ekosistem yang seimbang serta memberikan manfaat ekonomi jangka panjang,” tegasnya.
Kini, kawasan mangrove yang dikelola oleh 69 anggota kelompok, termasuk 29 perempuan, telah membuka beragam peluang usaha.
Selain mendapatkan imbal jasa dari kegiatan penanaman dan perawatan, warga juga mengembangkan pembibitan mandiri serta produk olahan berbasis buah mangrove, seperti sirup, yang memiliki nilai jual.
Dari kondisi yang pernah terancam musnah, kawasan Pasir Sakti kini berdiri tegak dengan hutan mangrove yang hijau subur.
Ia tidak hanya melindungi daratan dari terjangan laut, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan kerja sama dan harapan yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Informasi Kontak
Untuk keterangan lebih lanjut, silakan menghubungi:
Eko Prayitno
Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan
PT Bukit Asam (Persero) Tbk
Surel: corsec@bukitasam.co.id
Situs web: www.ptba.co.id











