Di Balik Senyum yang Selalu Membahana, Sebuah Hati Yang Menanti Cinta Yang Sesungguhnya

Purnama Sari: Menunggu Pendamping Hidup Yang Ikhlas Menerima Apa Adanya Dan Membimbing Menuju Kebaikan

Berita, GAYA HIDUP, OKU2903 Dilihat
Spread the love
Spread the love
         
 
  
                 
   
Baturaja, Radar Keadilan Senyum hangat yang selalu menghiasi wajahnya menjadi daya tarik tersendiri, menyampaikan kesan kehangatan dan kedamaian bagi siapa saja yang berinteraksi dengannya.

Namun di balik sosok yang dikenal ramah dan lembut tersebut, tersimpan cerita tentang luka hati yang tak banyak diketahui orang—luka yang muncul bukan dari kesulitan hidup atau kemiskinan, melainkan dari harapan cinta yang berulang kali menghadapi kenyataan pahit.

Perjalanan mencari cinta dan pendamping hidup selalu berujung pada kisah yang sama.

Ia mencintai dengan sepenuh hati dan ketulusan, namun sering kali bertemu dengan mereka yang hanya singgah sementara.

Mereka datang dengan kata-kata manis dan janji indah, kemudian pergi tanpa rasa tanggung jawab, meninggalkan hati yang kembali terluka.

Berkali-kali ia berusaha mempertahankan keyakinan bahwa momen kebahagiaan akan bertahan, namun kenyataan selalu memaksanya untuk menerima bahwa cintanya diperlakukan seolah tak berharga.

Hal ini bukan karena kekurangan dirinya, melainkan karena ketulusannya sering bertemu dengan mereka yang belum siap menjaga hati seorang perempuan.

Kini, ia hanya berharap dipertemukan dengan seseorang yang akan mengenalnya dengan cara sopan dan penuh niat baik.

Ia dikenal sebagai sosok perempuan dengan tutur kata yang halus, sikap yang sopan, dan hati yang penuh kasih sayang.

Kecintaannya pada anak-anak tercermin dari kemudahan mereka mendekatinya tanpa rasa takut, seolah merasakan getaran ketulusan yang terpancar dari dirinya.

Ironisnya, hati yang begitu penuh kasih justru sering menjadi sasaran rasa sakit dan kekecewaan.

Hidupnya diwarnai pergantian suka dan duka, dengan malam-malam kesendirian yang diisi dengan tangisan diam ketika dunia terasa sepi dan sunyi.

Pada beberapa kesempatan, ia mengajukan pertanyaan pada diri sendiri: “Apakah aku terlalu tulus dalam mencintai? Ataukah cinta memang tak pernah berpihak padaku?”

Meski demikian, ia tidak pernah menunjukkan kesedihan di hadapan orang lain.

Ia memilih menyimpan beban emosionalnya sendiri, menutup luka hati dengan kesabaran yang luar biasa, dan menjalani hari-hari dengan ketegaran yang tak semua orang miliki.

Di balik keheningannya, ia terus berdoa dengan permintaan yang sederhana—hanya ingin ditemani dengan cara yang benar dan sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya.

Harapan terbesarnya adalah menemukan seorang pendamping hidup yang ikhlas menerima dirinya apa adanya.

Seorang yang mampu menjadi imam dalam ibadah, membimbingnya untuk selalu mengikuti jalan kebaikan, dan menggenggam tangannya tidak hanya pada saat bahagia, tetapi juga saat menghadapi ujian hidup.

Di lubuk hati yang paling dalam, ia menyimpan impian suci: suatu hari nanti akan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah bersama pasangan hidupnya—bersama seseorang yang mencintainya karena Allah SWT, tetap setia dalam kesederhanaan, dan tidak akan pergi ketika masa sulit datang.

Kini, ia terus menjalani hari-hari dengan kesabaran dan keyakinan yang kuat. Ia percaya bahwa Tuhan tidak pernah salah dalam mengatur waktu dan takdir.

Meski hati sering merasa lelah dan terluka, ia tetap yakin bahwa suatu hari nanti akan datang seseorang yang tidak hanya singgah dalam hidupnya, melainkan akan tinggal dan menjadi rumah bagi hati yang telah terlalu lama merindukan kedekatan dan kebahagiaan yang sesungguhnya. (*/Yos)

BERITA TERKAIT