
Sebanyak 1.000 personel gabungan dari kepolisian, Tentara Nasional Indonesia, dan instansi terkait siap bertugas, didukung oleh 2.746 pos pengamanan dan pelayanan yang tersebar di seluruh wilayah Sumatera Selatan.

Kegiatan apel dipimpin secara resmi dengan pembacaan amanat Kapolri oleh Gubernur Sumatera Selatan, diikuti dengan penyematan pita operasi kepada perwakilan personel sebagai simbol dimulainya pengamanan Lebaran.
Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, potensi pergerakan masyarakat secara nasional pada Lebaran 2026 mencapai 143,9 juta orang.
Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, pos-pos pengamanan, pelayanan, dan terpadu ditempatkan di jalur mudik utama, kawasan objek vital, pusat keramaian, serta titik potensial kepadatan lalu lintas.
Strategi pengamanan juga mencakup rekayasa lalu lintas berupa pembatasan angkutan barang, penerapan sistem satu arah, aliran terbalik, serta kebijakan ganjil-genap di ruas jalan tertentu.
Selain pengamanan jalur darat, patroli diperkuat di kawasan objek vital, tempat ibadah, dan jalur transportasi sungai melalui Direktorat Polisi Air dan Udara.
Kapolda Sumatera Selatan Sandi Nugroho menegaskan bahwa operasi ini merupakan wujud nyata kehadiran negara bagi masyarakat.
“Operasi Ketupat Musi 2026 bukan sekadar operasi kepolisian. Ini adalah bentuk kehadiran negara untuk memastikan setiap pemudik dapat sampai ke tujuan dengan selamat dan setiap keluarga dapat merayakan Idul Fitri dengan tenang,” ujarnya.

Kabid Humas Polda Sumatera Selatan Nandang Mu’min Wijaya mengajak masyarakat untuk memanfaatkan seluruh fasilitas yang disediakan dan mematuhi aturan lalu lintas.
“Kami telah menyiapkan pos pelayanan di sepanjang jalur mudik. Masyarakat yang membutuhkan bantuan dapat menghubungi petugas kami. Mudik aman adalah tanggung jawab bersama,” jelasnya.
Operasi Ketupat Musi 2026 berlangsung selama 13 hari, mulai tanggal 13 hingga 25 Maret 2026. Seluruh personel siap bersiaga di titik strategis untuk memastikan situasi keamanan tetap kondusif.













