Kebakaran ini menambah panjang daftar insiden serupa di wilayah yang dikenal dengan aktivitas minyak ilegalnya.
Banner dan plang imbauan yang gencar dipasang oleh Polsek Bayung Lencir patut diapresiasi, namun efektivitasnya dipertanyakan jika tidak disertai dengan penindakan yang konsisten.
Risiko keselamatan publik, pencemaran lingkungan, dan kerugian aset negara terus mengintai jika rantai pasok, permodalan, dan penampungan hasil ilegal tidak diputus secara terukur.
Edukasi dan Penegakan Hukum: Kunci Utama
Untuk mengatasi masalah ini secara komprehensif, diperlukan edukasi yang menyasar semua pihak:
- Masyarakat: Aktivitas penyulingan/pengeboran tanpa izin sangat berbahaya (ledakan, kebakaran, paparan asap beracun) dan melanggar hukum.
- Pelaku Usaha Lokal: Dorong skema legal sesuai regulasi, penuhi standar K3 (keselamatan dan kesehatan kerja), serta pengelolaan limbah yang bertanggung jawab.
- Pemerintah & APH: Sosialisasi harus dibarengi dengan penegakan hukum berkelanjutan dan pendampingan peralihan ke skema berizin/kemitraan yang adil dan transparan.
- Lingkungan Hidup: Tumpahan dan pembakaran minyak berisiko mencemari tanah dan sungai, mengancam kesehatan warga serta ekosistem.
Permen ESDM No. 14/2025 memberikan kerangka tata kelola, tetapi tidak melegalkan aktivitas tanpa izin. Izin, standar keselamatan, pengawasan, dan rantai niaga resmi adalah syarat mutlak. Tanpa itu, setiap operasi tetap ilegal dan berkonsekuensi pidana.
Menanti Tindak Lanjut Nyata
Polsek Bayung Lencir menyatakan bahwa penyelidikan sedang berjalan dan gelar perkara akan dilaksanakan Senin, 25 Agustus 2025, di tingkat Polda Sumsel. Publik menanti tindak lanjut nyata, mulai dari identifikasi pemodal, penelusuran jalur distribusi, hingga penutupan permanen titik-titik rawan bukan sekadar pencopotan peralatan setelah insiden terjadi.
Ledakan di Desa Berdikari adalah alarm keras yang tidak boleh diabaikan. Penegakan hukum yang tegas, terukur, dan berkelanjutan disertai solusi legal yang realistis bagi ekonomi warga adalah satu-satunya cara untuk memutus siklus “terbakar, dibereskan, terulang lagi.” (Desi)












