
Kasus tersebut terungkap selama agenda Safari Ramadhan pada hari Rabu tanggal 4 Maret 2025, di mana pemerintahan daerah juga memberikan bantuan perbaikan rumah tidak layak huni untuk mendukung kesejahteraan keluarga penerima manfaat.
Remaja tersebut terakhir mengenyam pendidikan di kelas lima sekolah dasar dan mengakhiri aktivitas belajarnya akibat menerima ejekan dari teman sebaya, yang membuatnya merasa tidak nyaman berada di lingkungan sekolah.
Kondisi tersebut semakin diperparah setelah ia tinggal bersama neneknya di rumah kayu sederhana yang tidak layak huni, pasca meninggalnya kedua orang tuanya.
Fenomena anak putus sekolah di wilayah tersebut tidak selalu berkaitan dengan permasalahan ekonomi.
Namun demikian, masih terdapat kasus anak yang terhenti dalam pendidikan akibat faktor sosial dan psikologis, mengingat penerimaan sosial pada usia remaja awal memiliki pengaruh kuat terhadap rasa percaya diri dan motivasi belajar.
Bupati Ogan Komering Ilir menyampaikan komitmen penuh untuk membantu remaja tersebut kembali mendapatkan akses pendidikan yang layak.
“Pendidikan tetap menjadi prioritas utama, tanpa memandang kondisi keluarga masing-masing. Pemerintah daerah akan memfasilitasi seluruh kebutuhan yang diperlukan agar ia dapat kembali menempuh proses belajar,” ujarnya.
Untuk mengejar ketertinggalan materi pelajaran, remaja tersebut akan mendapatkan pendampingan khusus melalui Program Paket A setara dengan jenjang sekolah dasar guna menyelesaikan pendidikan tingkat tersebut.
Selain itu, kebutuhan seragam sekolah akan dipenuhi melalui program bantuan seragam sekolah gratis yang diselenggarakan pemerintah daerah.
Selain memastikan akses pendidikan, pemerintah Kabupaten OKI juga telah melakukan pemugaran rumah tinggal keluarga remaja tersebut melalui program perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH).
Rumah kayu yang sebelumnya dalam kondisi rapuh kini telah diperbaiki secara menyeluruh agar menjadi lebih aman dan layak untuk ditempati sehari-hari.
“Saya hanya berharap cucu saya dapat kembali sekolah, sehingga masa depannya dapat lebih baik dibandingkan dengan kami,” katanya dengan emosi yang terkontrol.

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten OKI menekankan pentingnya dukungan komprehensif dari keluarga dan lingkungan sekitar dalam proses tumbuh kembang anak perempuan seusia remaja tersebut.
“Anak-anak pada usia ini sedang dalam masa pencarian jati diri. Mereka membutuhkan ruang untuk didengar dan dukungan untuk didampingi. Kami berkomitmen memastikan ia tumbuh dengan rasa percaya diri dan tidak merasa terisolasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, TP PKK akan melakukan koordinasi erat dengan Dinas Pendidikan, perangkat desa setempat, dan pihak sekolah untuk memberikan pendampingan berkelanjutan.
Langkah tersebut termasuk memastikan kesiapan psikologis remaja tersebut sebelum secara resmi kembali mengikuti proses pembelajaran di lingkungan sekolah.
Remaja tersebut menyampaikan keinginannya yang masih kuat untuk melanjutkan pendidikan.
“Saya sebenarnya memiliki keinginan yang besar untuk kembali sekolah,” ucapnya secara lugas.
Kisah ini menunjukkan bahwa upaya mengembalikan anak ke bangku pendidikan memerlukan pendekatan yang menyeluruh dan terpadu.
Perbaikan hunian melalui program RTLH menjadi bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan dasar, sementara pemulihan rasa aman dan kepercayaan diri menjadi prasyarat utama agar semangat belajar dapat tumbuh kembali dan berkelanjutan. (*/HS)










