Peningkatan sebesar 23,69 persen atau tambahan 689.325 ton dibandingkan tahun sebelumnya (2.909.412 ton) mengangkat posisi wilayah ini dari peringkat delapan menjadi tiga besar nasional dalam produksi padi, hanya di bawah Jawa Timur dan Jawa Barat.
Peningkatan produksi tersebut selaras dengan kenaikan produktivitas lahan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
Perjalanan Sumatera Selatan dalam peta produksi beras nasional menunjukkan perkembangan yang pesat, dari peringkat delapan naik ke lima, hingga kini menempati posisi yang lebih unggul.
“Fasilitasi pemerintah seperti program cetak sawah, kemudahan akses pupuk, hingga kebijakan Presiden mengenai kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) tidak akan berdaya tanpa semangat dan kerja keras petani di lapangan,” ujarnya dalam keterangan resmi pada Kamis (5/2/2026).
Pemerintah provinsi juga menguatkan peran penyuluh pertanian sebagai ujung tombak pembangunan sektor tersebut.
Sumatera Selatan menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang mengangkat sekitar 2.000 penyuluh pertanian, dengan mandat tidak hanya memberikan bimbingan teknis tetapi juga mendorong orientasi kewirausahaan pada petani.

“Petani tidak boleh hanya berperan sebagai buruh di lahan sendiri. Mereka harus menjadi pengusaha di tanahnya sendiri, memperoleh nilai tambah dari hasil produktivitas lahan,” jelas Herman Deru.
Dukungan komprehensif diberikan mulai dari sektor hulu hingga hilir, mencakup ketersediaan sarana produksi, kepastian harga pembelian melalui Badan Urusan Logistik (Bulog), serta pembangunan infrastruktur oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.
Saat ini, luas baku sawah di Sumatera Selatan mencapai sekitar 550 ribu hektare, menempatkan wilayah ini di peringkat tiga nasional dalam kategori tersebut.
“Jika luas baku sawah terus bertambah dan produktivitas lahan didorong secara maksimal, bukan tidak mungkin Sumatera Selatan akan menempati peringkat satu nasional dalam produksi padi,” tegas Herman Deru.
Penguatan sektor pangan juga memberikan dampak sosial yang positif bagi masyarakat.
Angka kemiskinan di Sumatera Selatan kini telah mencapai level satu digit, sementara provinsi ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri tetapi juga telah berada pada posisi surplus pangan.
Prestasi ini membuktikan bahwa kerja sama lintas sektor dan perhatian terhadap petani mampu membawa perubahan signifikan dalam pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. (*/Andrian)













