Kegiatan ini menjadi saluran langsung bagi pemerintah daerah untuk mendengar aspirasi masyarakat dan menindaklanjuti masalah yang dihadapi.
“Ketika datang langsung, insya Allah masalah warga akan terpatri di hati. Meskipun tidak mungkin menjangkau semua 327 desa di OKI, kami tetap berupaya menyebarkan program pembangunan hingga ke tengah masyarakat,” ujar Muchendi.

Dalam kesempatan itu, Muchendi meninjau rumah nenek lanjut usia Asmawati, yang tinggal bersama anak berkebutuhan khusus.
Rumahnya memiliki atap dapur berlubang, menyebabkan air hujan langsung membasahi lantai kayu lapuk.
“Kami tidak mampu memperbaiki rumah; bahkan makan sehari-hari sudah sulit,” ucap Asmawati, yang terdaftar sebagai penerima PKH.

Selain itu, rombongan juga meninjau rumah berukuran 2 x 3 meter yang ditempati tiga bersaudara: Muhammad, Susi, dan Ratih (bidan desa setempat).
“Sebelumnya kami tinggal di kebun, lalu membangun rumah di sini. Kondisinya sangat kecil dan tidak layak,” katanya.
Melihat kondisi tersebut, Bupati Muchendi segera memerintahkan Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) OKI untuk mengusulkan kedua rumah tersebut masuk dalam program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
“Perbaikan akan diupayakan segera, terutama atap dan struktur bangunan yang tua dan berisiko roboh,” tegasnya, sambil menyerahkan bantuan tali asih.
Ia juga menyatakan telah berkoordinasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) OKI agar proses perbaikan berjalan cepat, mengingat musim hujan sedang berlangsung.
“Keluarga harus tinggal dengan aman dan nyaman,” tambahnya.
Dengan janji perbaikan segera melalui RTLH dan kerja sama Baznas, pemerintah OKI menunjukkan komitmen untuk menyelesaikan masalah hunian warga miskin, menutup babak awal tahun dengan aksi yang sesuai dengan aspirasi masyarakat. (*/Red)








