
Masuk hari keenam pelaksanaan operasi, pihak berwenang menegaskan seluruh Pos Pengamanan (Pospam) harus berfungsi sebagai pusat solusi dan pelayanan masyarakat, bukan sekadar titik untuk penjagaan lalu lintas.
Pihak berwenang mengarahkan seluruh jajaran untuk mengedepankan pendekatan humanis dalam setiap pelaksanaan tugas di lapangan.
Peringatan tersebut disampaikan dengan menekankan bahwa kehadiran kepolisian harus memberikan manfaat nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya para pemudik yang melintasi wilayah Sumatera Selatan.
Selanjutnya, pihak berwenang mengingatkan agar setiap personel tidak hanya menjalankan rutinitas pengamanan standar, tetapi juga membangun kepekaan terhadap kebutuhan yang muncul selama perjalanan mudik.
Pospam diharapkan menjadi titik informasi, bantuan teknis, serta penyedia solusi bagi pemudik yang menghadapi kendala di jalan.
“Pos Pengamanan bukan hanya untuk mengatur lalu lintas di depannya, tetapi harus memberikan layanan informasi dan solusi. Jangan sampai hanya menjadi simbol tanpa manfaat nyata bagi masyarakat,” tegas pihak berwenang.

Seiring peningkatan volume kendaraan pada aliran mudik, pihak berwenang memberikan arahan strategis agar memastikan pergerakan kendaraan tetap berjalan lancar.
Kepadatan arus diakui sebagai kondisi wajar pada musim mudik, namun situasi berhenti total harus diantisipasi secara maksimal melalui langkah-langkah preventif.
“Kepadatan arus saat mudik adalah hal yang biasa, tetapi yang harus kita cegah adalah kondisi berhenti total. Selama kendaraan masih bergerak, situasi masih terkendali,” ujarnya.
Untuk mendukung efektivitas pengamanan, Polda Sumsel telah mengerahkan sebanyak 2.361 personel yang didukung oleh sistem teknologi pemantauan modern.
Pihak berwenang menginstruksikan pemanfaatan drone udara serta sistem overlay peta kerawanan untuk memantau titik-titik rawan kepadatan dengan presisi tinggi.
Selain itu, penekanan diberikan pada pentingnya langkah antisipatif.
Seluruh jajaran diminta untuk mengisi posisi lebih awal di titik-titik rawan, termasuk kawasan pasar tumpah yang berpotensi menyebabkan hambatan, sehingga potensi perlambatan arus dapat diurai sebelum berkembang menjadi kepadatan panjang.
Dalam arahan tersebut, pihak berwenang juga menyoroti pentingnya menjaga harmoni sosial di tengah momentum mudik yang bertepatan dengan perayaan keagamaan lainnya.
“Kami mengedepankan empati dan toleransi. Pastikan saudara-saudara kita yang melaksanakan ibadah dapat menjalankan kegiatan dengan aman dan nyaman,” tegasnya.
Langkah ini menunjukkan bahwa pengamanan Operasi Ketupat Musi 2026 tidak hanya berfokus pada kelancaran lalu lintas, tetapi juga pada stabilitas sosial dan kerukunan masyarakat secara luas di wilayah Sumatera Selatan.
Polda Sumsel juga mengantisipasi kemungkinan kendala komunikasi di lapangan dengan menyiapkan dukungan teknologi canggih, termasuk akses internet satelit di wilayah yang mengalami blank spot sinyal.
Langkah strategis ini bertujuan menjaga koordinasi antar personel tetap solid dan memastikan respons terhadap dinamika kondisi lapangan dapat dilakukan secara cepat serta terintegrasi hingga periode arus balik mudik berakhir.
Polda Sumatera Selatan menegaskan bahwa Operasi Ketupat Musi 2026 dijalankan secara profesional, humanis, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat.

Komitmen tersebut ditegaskan untuk memastikan setiap pemudik mendapatkan rasa aman, kenyamanan, dan pelayanan terbaik – sesuai dengan tujuan utama pengamanan mudik nasional yang diusung sejak awal hingga seluruh rangkaian perayaan Lebaran selesai. (*/Andrian)












