Sebagai bentuk dukungan kepada pelaku usaha lokal, ia juga membeli sejumlah hasil anyaman purun Pedamaran.
“Anjungan kabupaten dan kota berfungsi sebagai etalase budaya yang memperlihatkan keragaman tradisi dari seluruh wilayah. Melalui ruang ini, masyarakat maupun tamu dari luar daerah dapat mengenal wajah kebudayaan Sumatera Selatan tanpa harus mengunjungi setiap lokasi secara terpisah,” ujar Feby.
Ia menegaskan bahwa rumah adat dan anjungan bukan sekadar bangunan fisik, melainkan sarana penting untuk memperkenalkan nilai budaya, seni, dan identitas daerah kepada khalayak luas.
Festival yang diikuti oleh 17 kabupaten dan kota se-Provinsi Sumatera Selatan juga mendapat perhatian penuh dari Gubernur Herman Deru.
Menurutnya, budaya harus dijadikan fondasi utama agar generasi muda tidak kehilangan jati diri di tengah derasnya arus perubahan zaman.
“Budaya menjadi penuntun agar kita tidak terlepas dari akar sejarah. Oleh karena itu, kegiatan serupa harus terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjadi agenda rutin yang didukung penuh oleh seluruh pemangku kepentingan,” tegas Gubernur.
Sementara itu, Bupati OKI Muchendi Mahzareki menyatakan bahwa keikutsertaan daerahnya dalam festival ini merupakan wujud nyata upaya memperkenalkan potensi sekaligus melestarikan warisan leluhur.
“Setiap hidangan, tenunan, dan hasil kerajinan yang kami tampilkan bukan sekadar barang pameran, melainkan cerminan perjalanan hidup dan sejarah masyarakat kami. Tugas kita bersama adalah menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkannya kepada generasi penerus agar tidak tergerus waktu,” ujar Muchendi.
Melalui partisipasi ini, Kabupaten OKI berkomitmen untuk terus mengangkat nilai budaya sebagai aset berharga yang memperkuat identitas daerah dan membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif bagi masyarakat. (*/Heri)













