BKSDA Sumsel menyebut pemerintah juga sudah merencanakan pembangunan tanggul gajah sepanjang 38 Km serta pagar kejut sepanjang 10 km di wilayah yang sering dilintasi oleh gajah.
“Pembangunan tanggul bertujuan untuk mengurangi interaksi negatif dengan manusia serta melindungi hasil pertanian, serta menjaga keamanan masyarakat di daerah yang rawan serangan gajah.”Ujar Setiawan.
Barier Vegetasi
Selain rencana pembangunan tanggul gajah, pemerintah bersama masyarakat tambah dia juga melakukan penanaman jenis tanaman yang tidak disukai gajah di kawasan perbatasan dengan pemukiman atau disebut dengan tanggul vegetasi.
Jenis tanaman yang tidak disukai hewan mamalia tersebut antara lain, Kakao, Kelengkeng, Mangga, Manggis, Matoa, Petai, Rambutan, Sawo, Serai wangi dan Sukun timun.
Setiawan menjelaskan masyarakat juga mampu meminimalisir risiko interaksi negatif antara manusia dengan gajah melalui inisiasi desa mandiri konflik gajah. 
“Kita lakukan upaya Penyadartahuan masyarakat desa rawan interaksi negatif pada koridor gajah Sugihan Simpang Heran melalui peningkatan kapasitas dan pendampingan kepada masyarakat langkah mitigasi cepat jika ada interaksi dengan gajah.” Terangnya.
Posko Pagarapat
Setiawan menjelaskan di Air Sugihan telah didirikan Posko Pagarapat. Posko tersebut merupakan tim gabungan dalam rangka mitigasi interaksi negatif gajah dan manusia, Tim terdiri atas unsur masyarakat dari lima desa, perusahaan pemegang serta Balai KSDA Sumatera Selatan terdiri dari mahout, polisi kehutanan, tenaga pendamping, dan gajah binaan.
“Keberadaan pagaraat berupaya membangun pemahaman koeksistensi manusia dan gajah dengan pola berbagi ruang kehidupan. Dengan pondasi tersebut, akan memperkuat kemandirian masyarakat yang telah dibangun.” Terang dia. (Red)










