
“Petani tidak boleh hanya berperan sebagai buruh di lahan sendiri. Mereka harus menjadi pengusaha di tanahnya sendiri, memperoleh nilai tambah dari hasil produktivitas lahan,” jelas Herman Deru.
Dukungan komprehensif diberikan mulai dari sektor hulu hingga hilir, mencakup ketersediaan sarana produksi, kepastian harga pembelian melalui Badan Urusan Logistik (Bulog), serta pembangunan infrastruktur oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.
Saat ini, luas baku sawah di Sumatera Selatan mencapai sekitar 550 ribu hektare, menempatkan wilayah ini di peringkat tiga nasional dalam kategori tersebut.
Potensi untuk meraih peringkat pertama nasional pun terbuka lebar jika perluasan lahan dan peningkatan produktivitas dapat dipertahankan secara berkelanjutan.
“Jika luas baku sawah terus bertambah dan produktivitas lahan didorong secara maksimal, bukan tidak mungkin Sumatera Selatan akan menempati peringkat satu nasional dalam produksi padi,” tegas Herman Deru.
Penguatan sektor pangan juga memberikan dampak sosial yang positif bagi masyarakat.
Angka kemiskinan di Sumatera Selatan kini telah mencapai level satu digit, sementara provinsi ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri tetapi juga telah berada pada posisi surplus pangan.
Prestasi ini membuktikan bahwa kerja sama lintas sektor dan perhatian terhadap petani mampu membawa perubahan signifikan dalam pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. (*/Andrian)














