Akses Jalan Desa Sadu Musi Rawas Memprihatinkan, Warga Terkendala Genangan Air dan Lumpur

Akses Jalan Desa Sadu Musi Rawas Memprihatinkan, Warga Terkendala Genangan Air dan Lumpur

Musi Rawas, Radar Keadilan Kondisi memprihatinkan melanda akses jalan penghubung di Desa Sadu, Kecamatan BTS Ulu, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan.

Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi mobilitas masyarakat kini berubah menjadi hamparan lumpur dan genangan air, menyulitkan warga yang hendak beraktivitas.

Kondisi tersebut semakin parah akibat tingginya intensitas curah hujan yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Genangan air menutupi permukaan jalan yang penuh dengan lubang, sementara tekstur jalan yang berlumpur meningkatkan risiko kecelakaan, khususnya bagi pengendara sepeda motor yang mudah tergelincir.

Sebagai bentuk keprihatinan dan sindiran atas lambannya penanganan infrastruktur, sejumlah pelajar sempat mengabadikan momen tersebut dengan berfoto di tengah jalan yang tergenang air keruh.

Aksi ini kemudian menjadi viral dan menyebar luas di media sosial, memantik perhatian publik terhadap buruknya kondisi jalan di daerah tersebut.

Merespons keluhan masyarakat, Camat BTS Ulu, Marzuki Usman, membeberkan alasan mendasar mengapa perbaikan permanen hingga saat ini belum dapat dilakukan.

Menurutnya, kendala utama terletak pada status lahan di mana jalan tersebut berada.

“Untuk peningkatan kualitas menjadi hotmix tidak bisa dilakukan karena akses jalan tersebut terletak di dalam kawasan hutan. Namun, Pemerintah Kabupaten Musi Rawas telah berupaya melakukan pengerasan menggunakan agregat pada tahun sebelumnya,” ungkap Marzuki kepada awak media, Sabtu (18/4).

Sayangnya, upaya perbaikan tersebut dinilai tidak bertahan lama. Hal ini disebabkan oleh struktur tanah yang labil serta beban lalu lintas yang melebihi kapasitas jalan.

“Kalaupun jalan itu sudah tidak berada dalam kawasan hutan, tentunya pemerintah bisa melakukan perbaikan permanen. Selain Desa Sadu, akses jalan menuju Desa Sembatu Jaya juga memiliki status lahan yang sama,” jelasnya lebih lanjut.

Meskipun demikian, Marzuki menegaskan bahwa secara umum kondisi infrastruktur di wilayah kerjanya sudah cukup baik.

Ia mencatat sekitar 95 persen akses jalan di Kecamatan BTS Ulu sudah beraspal. Kerusakan yang terjadi di beberapa titik, menurut dia, lebih disebabkan oleh faktor eksternal.

“Faktor utama kerusakan adalah angkutan yang melebihi tonase yang diizinkan serta cuaca ekstrem. Bahkan di wilayah Gunung Kembang pun kondisinya sudah bagus dan berhotmix,” tambahnya.

Terpisah, pihak kecamatan mengaku telah melakukan upaya preventif dengan memberikan himbauan kepada perangkat desa dan kepala desa agar mengawasi kendaraan yang melintas.

Namun, penegakan aturan terkait muatan lebih bukan merupakan kewenangan penuh di tingkat kecamatan.

“Kami hanya sebatas mengimbau, karena memang bukan kewenangan kami menindak tegas angkutan yang melebihi tonase,” pungkasnya.

Kondisi jalan yang rusak parah bukan hanya terjadi di Desa Sadu. Desa Sindang Laya dan Mukti Karya di Kecamatan Muara Lakitan juga mengalami nasib serupa.

Bahkan, kondisi ini pernah menelan korban nyawa ketika seorang warga sakit yang hendak dibawa berobat meninggal dunia di tengah perjalanan akibat keterlambatan menuju fasilitas kesehatan karena akses yang tidak dapat dilalui dengan lancar. (*/SMSI Musi Rawas)