“Teknologi hanyalah alat bantu. Kunci utama keberhasilan tetap terletak pada kesiapsiagaan petugas dan kebersamaan seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga lingkungan,” tegas Muchendi.
Kepala Daops Manggala Agni OKI, Edi Satriawan, menjelaskan bahwa pengembangan pusat pengelolaan ini mencakup pembangunan pusat komando, ruang pelatihan, penyediaan sarana operasional, serta penerapan sistem informasi yang mampu memantau kondisi lahan secara langsung.
Sistem ini dapat mengukur tingkat kelembaban lahan gambut secara waktu nyata dengan batas aman sebesar 40 persen. Jika kelembaban turun di bawah angka tersebut, sistem akan memberikan peringatan dini sehingga langkah pencegahan dapat segera diambil.
Selain itu, sistem ini juga mampu mendeteksi titik panas, memantau pergerakan petugas di lapangan, serta menyajikan data akurat untuk mendukung pengambilan keputusan secara cepat dan tepat.
Sebagai pelengkap, pembangunan asrama bagi petugas Manggala Agni juga sedang berlangsung dalam rangka proyek Development of Forest and Land Fire Management System in South Sumatra.
Sejak dioperasikan, pusat pengelolaan tersebut telah digunakan untuk berbagai kegiatan peningkatan kapasitas, termasuk pelatihan internasional penanggulangan karhutla gambut yang diselenggarakan oleh Asian Forest Cooperation Organization (AFoCo) pada 20–24 April 2026 dan diikuti peserta dari enam negara.
Langkah strategis ini menjadi bukti nyata komitmen bersama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.
Dengan dukungan teknologi dan kolaborasi yang kokoh, wilayah OKI kini memiliki pertahanan yang lebih andal menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan, sekaligus menjadi model pengelolaan lingkungan yang dapat dikembangkan di daerah lain. (*/Heri)












